Dalam sesi yang lalu kita sudah belajar tentang apa yang bukan dimaksud dengan pertobatan. Pertobatan bukan sekadar penyesalan. Pertobatan juga tidak selalu melibatkan kisah yang dramatis dan spektakuler. Hari ini kita akan belajar tentang apa yang dimaksud dengan pertobatan. Ada banyak defenisi tentang pertobatan, tetapi secara sederhana, pertobatan adalah sebuah pembalikan tujuan hidup dan kecintaan kita.
Paulus memuji jemaat Tesalonika, dan berkata, bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, . . . (1Tes. 1:9). Jadi dalam pertobatan yang sejati ada pembalikan, bukan sekadar pergeseran. Berbalik dari dewa-dewa yang sia-sia kepada Allah yang hidup. Juga ada pembalikan dari sisi kecintaan kita. Apa yang dahulu kita cintai yaitu dosa, sekarang kita benci. Apa yang dahulu kita benci, yaitu Allah, sekarang kita cintai. Lalu apa ciri-ciri pertobatan yang sejati?
Pertama, pertobatan sejati bersifat supranatural. Pertobatan bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah. Manusia berdosa tidak mungkin mempertobatkan dirinya sendiri. Manusia yang berdosa tidak mungkin melakukan sesuatu yang menghasilkan pertobatan. Karena musuh-musuh Allah tidak akan pernah mencari Allah untuk mengasihi Dia. Kita dahulu adalah para pemberontak. Tidak mungkin kita mengasihi Allah dengan sukarela. Kita tidak punya kuasa untuk mencari, menemukan, memilih dan mengasihi Dia; kecuali jika Allah yang terlebih dahulu bekerja di dalam hati kita.
Pertobatan yang sejati hanya bisa terjadi kalau Roh Kudus bekerja. Dia melembutkan hati kita. Dia melahirbarukan kita. Dialah yang memampukan kita untuk mempercayai Yesus dan mempercayakan diri kita kepada Yesus. Pertobatan sejati bukanlah “pertobatan” yang dibangun di atas rekayasa suasana demi sebuah euforia yang disebut “pertobatan” (band. Yoh. 2:23-25). Yesus berkata pada Nikodemus, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3:5). Jika kita tidak mengalami karya Roh Kudus dalam hidup kita, maka kita tidak mungkin bisa melihat Kerajaan Allah. Tanpa karya Roh Kudus tidak mungkin kita mengalami pertobatan yang sejati. Jadi pertobatan yang sejati memiliki ciri supranatural.
Kedua, pertobatan yang sejati bersifat radikal. Kata radikal berasal dari kata “radix”, yang berarti akar. Sesuatu yang radikal itu berarti menyentuh sesuatu yang paling dalam di dalam hidup kita. Yesus berkata tentang nabi-nabi palsu, “setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik”. (Mat. 7:17). Jadi apa yang tampak dari luar seharusnya mewakili apa yang ada di dalam. Pertobatan bukanlah perubahan yang dihasilkan hanya dengan sekadar mengubah cara berbicara, atau memperbaiki tata krama, atau menambah peraturan. Perubahan yang bukan dari dalam, bukanlah pertobatan yang sejati. Pertobatan sejati bersifat radikal.
Pada saat Yohanes Pembaptis membaptis di sungai Yordan, ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat yang datang kepadanya untuk dibaptis. Yohanes tahu kemunafikan dalam hati mereka, itu sebabnya dia berkata, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:8). Yohanes menyebut mereka “keturunan ular beludak” (ay.7), yang menunjukkan bahwa mereka pada hakekatnya adalah orang-orang jahat, dan dari dalam diri mereka yang jahat tidak mungkin muncul sesuatu yang baik. Tetapi kemudian Yohanes Pembaptis juga berbicara tentang buah yang baik, yang dihasilkan dari pohon yang baik. Jadi perubahan di luar harus di mulai dari dalam.
Semua perubahan dari luar tidak akan berarti apa-apa, kecuali jika Allah yang memulai perubahan itu dari dalam diri kita. Banyak orang bisa memperbaiki tingkah lakunya, tetapi tidak ada yang bisa menghasilkan perubahan sejati yang berasal dari dalam, kecuali jika Roh Kudus bekerja di dalam hidupnya. Apakah saudara sudah mengalami pertobatan yang sejati? Apakah saudara sudah mengalami perubahan yang dari dalam itu? Tuhan memberkati kita. Amin.
Pertanyaan:
- Sebutkan dua ciri pertobatan yang sejati!
- Tanpa karya Roh Kudus yang mengubah kita dari dalam, mustahil terjadi pertobatan yang sejati. Sudahkah saya membuka hati seluasnya untuk ditegur dan dikoreksi oleh Allah Roh Kudus?
- Mari berdoa bagi pribadi maupun kelompok orang disekitar kita, agar mereka juga mengalami pertobatan yang sejati.