Dalam pelajaran yang lalu kita sudah belajar bahwa inti kekristenan adalah relasi dengan Kristus. Tetapi sayangnya, banyak orang yang tidak memiliki relasi yang penuh arti dengan Kristus. Mengapa? Karena ada dosa. Apa sebenarnya dosa itu?
Dosa bukan sekadar perasaan subyektif.
Ketika orang merasa berdosa, ada perasaan “tidak enak” di dalam dirinya. Tetapi dosa bukanlah sekadar sebuah “perasaan tidak enak” yang subyektif. Dosa adalah sebuah realita yang obyektif. Status kita berdosa di hadapan Allah (Rm. 3:23). Dosa adalah kejijikan di mata Allah (Yes.1:13). Dosa adalah sesuatu yang obyektif. Realita di hadapan Allah. Bukan hanya apa yang kita rasakan, tapi apa yang Allah nilai. Penilaian Allah lebih penting daripada perasaan kita.
Dosa tidak selalu aktif.
Kadangkala kita mudah menghakimi orang lain yang melakukan dosa secara aktif, yaitu orang-orang yang melanggar perintah Tuhan. Tetapi sadarkah kita, bahwa ketika kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, itu juga merupakan dosa? (band.Yakobus 4:17). Jadi sikap cuek dan pengabaian itu merupakan dosa. Ketika kita seharusnya melakukan sesuatu, tetapi kita tidak melakukan hal hal yang seharusnya kita lakukan, itu sudah termasuk dosa. Jadi dosa tidak selalu aktif.
Dosa tidak selalu terlihat.
Kita biasanya membatasi dosa pada tindakan. Tetapi Allah sanggup melihat bukan hanya dosa yang terlihat, tetapi juga dosa yang tidak terlihat (band. Mat.15: 18-19, Yer. 17:9-10, Ibr.4:13). Jadi orang berdosa atau tidak berdosa bukan hanya dilihat dari apa yang dia lakukan atau tidak lakukan, tetapi juga dari hati, pikiran, dan motivasinya.
Dosa tidak selalu terkesan mengerikan.
Pembunuhan adalah dosa yang mengerikan. Tapi tahukah Anda, apa esensi pembunuhan itu? Alkitab menyatakan bahwa esensi pembunuhan ada dua. Pertama, tidak menghargai orang lain. Ketika kita tidak menghargai orang lain sebagai gambar dan rupa Allah, maka pada dasarnya kita telah menghina dan merendahkan dia (Band. Kej. 9:2). Hal tersebut menunjukkan bahwa kita tidak lebih baik dari para pembunuh. Kedua, membenci sesama. Orang yang membunuh seringkali didasarkan oleh kebencian. Walaupun kita tidak membunuh, tetapi jika kita membenci orang lain, ada dasarnya kita melakukan tindakan yang sama dengan para pembunuh, yaitu kita membenci sesama kita.
Dosa tidak selalu obyek.
Kita seringkali berpikir bahwa dosa adalah sesuatu yang kita lakukan. Kita subyek dan dosa adalah obyek. Tetapi konsep ini tidak utuh. Alkitab mengajarkan, bahwa dosa itu bukan sekadar apa yang kita lakukan (obyek), tapi dosa juga adalah subyek, yang membuat kita melakukan sesuatu. Dalam Yoh 8:34 Tuhan Yesus berkata, “sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (band. Rm. 6). Karena kita mewarisi dosa asal, maka original sin itu menciptakan actual sin. Jadi, dosa bukan sekadar obyek yang kita lakukan, tapi subyek yang membuat kita berdosa.
Tidak satupun manusia yang tidak berdosa. Bahkan orang yang paling baik pun, jika dia paham apa itu dosa maka dia pun akan paham bahwa dia adalah orang berdosa. Rasul Paulus menuliskan: Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.