Pernahkah Anda membayangkan sebuah roda yang berputar tanpa jari-jari yang melekat kuat pada porosnya? Roda tersebut mungkin tetap bisa berjalan, namun gerakannya akan oleng, tidak stabil, dan mungkin tidak akan pernah sampai pada tujuan yang benar. Begitulah gambaran sebuah pernikahan yang tidak berpusat pada Allah.
Banyak pasangan memasuki gerbang pernikahan dengan cara yang berbeda-beda—seperti pengunjung di taman bermain. Ada yang bersantai tanpa persiapan ("apa yang terjadi, terjadilah"), ada yang hanya mengejar kesenangan seperti seks dan romantisme, dan ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari kesatuan hidup. Namun, sebuah kekeliruan mendasar sering terjadi: kita menganggap pernikahan adalah tentang "kita". Padahal, pernikahan hanyalah sarana untuk realisasi rencana Allah bagi dunia ini.
Allah sebagai Arsitek Pernikahan
Berdasarkan sumber Alkitab, pernikahan bukanlah ide manusia, melainkan murni ide ilahi. Allah memegang tiga peran krusial dalam pernikahan:
- Inisiator: Sebelum manusia ada, Allah telah memikirkan mereka dalam kerangka pernikahan melalui rencana penciptaan laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:26-27).
- Evaluator: Allah berkali-kali menilai ciptaan-Nya "baik" (Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25) atau "sangat baik" (Kejadian 1:31). Menariknya, saat Adam sendirian, Allah sendiri yang menilai bahwa kesepian itu "tidak baik" (Kejadian 2:18), bukan atas keluhan Adam.
- Eksekutor: Allah melakukan tindakan konkret dengan memberikan penolong (Kejadian 2:18) serta menciptakan Hawa dan membawanya langsung kepada Adam (Kejadian 2:21-22).
Karena Allah adalah inisiator, evaluator, dan eksekutor, maka Dialah yang berhak menentukan tujuan pernikahan yang bersifat theosentris (berpusat pada Allah).
Dari Theosentris Menjadi Anthroposentris
Tujuan awal pernikahan dirancang sebagai sarana bagi manusia untuk memenuhi bumi, menaklukkannya, dan menguasainya demi kemuliaan Allah (Kejadian 1:26-28). Namun, dosa telah mengubah wajah pernikahan menjadi anthroposentris (berpusat pada manusia).
Saat ini, banyak orang menikah hanya untuk mencari kesenangan pribadi. Hal ini terlihat jelas ketika pasangan memilih bercerai karena merasa lebih nyaman apabila berpisah, sehingga perasaan manusia diletakkan di tempat tertinggi. Bahkan dalam pernikahan yang terlihat harmonis, kemapanan ekonomi dan kemesraan seringkali menjadi "tuhan" baru, sementara kepentingan Allah hanya dianggap sebagai "tamu" yang sesekali diundang.
Memulihkan Poros yang Rusak: Kembali kepada Kristus
Bagaimana cara mengembalikan Allah ke posisi tertinggi? Diperlukan proses yang Kristosentris (berpusat pada Kristus). Apa yang telah dirusak oleh dosa hanya dapat diperbaiki melalui karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib.
Perubahan tujuan pernikahan harus dimulai dari perubahan tujuan hidup secara pribadi. Seseorang hanya dapat mengarahkan pernikahannya untuk kemuliaan Allah jika ia telah sampai pada titik iman seperti yang tertulis dalam ayat-ayat berikut:
- "Bagiku hidup adalah Kristus" (Filipi 1:21).
- "Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan" (Roma 14:8a).
Ketika hidup individu sudah diarahkan untuk Tuhan, maka suami dan istri akan mampu mengambil komitmen iman seperti Yosua: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15b).
Kesimpulan
Pernikahan bukan sekadar tentang mengejar kebahagiaan, melainkan tentang kepentingan kerajaan Allah di muka bumi. Hanya melalui perubahan hidup di dalam Kristus Yesus, sebuah pernikahan dapat ditarik kembali dari fokus pada diri sendiri menuju tujuan mulia: kepentingan dan kemuliaan Allah.
BERSAMBUNG……..>>>