Dalam pelajaran yang lalu kita sudah belajar bahwa dosa itu bukan sekadar perasaan subyektif, tidak selalu aktif, tidak selalu terlihat, tidak selalu terkesan mengerikan, dan tidak selalu obyek. Jika bukan demikian, lalu apa itu dosa? Dalam Alkitab terdapat beragam kata untuk menerangkan tentang dosa, antara lain: dosa bisa berarti tidak tepat sasaran, melanggar sebuah batasan, dan masih banyak lagi. Keragaman ini menunjukkan bahwa dosa itu sulit untuk didefenisikan, karena tidak ada satu kata yang bisa menggambarkannya dengan utuh.
Dalam sesi ini kita akan belajar memahami tentang dosa dengan menggunakan 1Yohanes 3:4, “ . . . dosa ialah pelanggaran hukum Allah”. Defenisi ini singkat, mudah diingat, tetapi juga cukup padat pemahamannya. Dosa adalah melanggar hukum Allah. Dosa adalah melanggar perintah Allah. Segala sesuatu di dalam pikiran maupun perbuatan kita, yang tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah adalah dosa. Dosa adalah pelanggaran terhadap perintah Allah di dalam hidup kita. Apa perintah Allah bagi kita? Apa kehendak Allah bagi kita? Dengan menaati perintah Allah kita bisa mengukur, apakah kita sudah memenuhi perintah itu atau tidak? Apakah kita sudah mencapai standar Allah atau tidak? Untuk menjelaskan hal ini, saya menggunakan dua teks:
Teks yang pertama, Galatia 3:10 " . . .Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat."
Kita perlu menggarisbawahi kata “segala sesuatu”. Jadi, segala sesuatu yang ada di dalam hukum Taurat harus kita taati. Kalau ada yang kita langgar berarti kita telah berdosa. Kita telah gagal mencapai standarnya Allah. Jadi perintah Allah mencakup segala sesuatu yang Allah sudah nyatakan di dalam Alkitab untuk kita. Itulah tuntutan Allah bagi kita. Tuntutan Allah sudah jelas, komprehensif, dan mutlak: “segala sesuatu yang tertulis”. Apakah kita sudah memenuhi seluruh tuntutan itu?
Teks yang kedua, Yakobus 2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.
Jika seseorang menaati semua perintah tetapi kemudian gagal pada satu perintah, maka orang itu telah bersalah terhadap seluruhnya. Dengan konsep semacam ini, mungkinkah kita tidak berdosa? Dalam hal etika, kesalehan, dan norma-norma, mungkin kita lebih baik dibandingkan orang lain atau sebagian besar orang, tetapi pertanyaannya adalah: Seberapa baikkah kita di hadapan Allah? Tuntutan Allah sangat jelas, barangsiapa mau menaati Allah dia harus melakukan segala sesuatu yang Allah perintahkan. Bersalah pada satu bagian berarti bersalah terhadap seluruhnya.
Raja Salomo yang terkenal dengan hikmatnya mengakui keberdosaannya. Dia berkata, “ . . . tidak ada manusia yang tidak berdosa . . .” (1Raj. 8:46). Rasul Yakobus dikenal sebagai “James the Just” karena ketaatan dan kesalehannya. Tetapi dalam surat Yakobus 3:2 dia mengatakan,“kita semua bersalah dalam banyak hal”. Dia tidak mengatakan “kalian”, tetapi dia memakai kata “kita” berarti termasuk dirinya adalah orang berdosa. Dia juga tidak mengatakan “saya bersalah dalam satu hal”, tetapi “kita semua (termasuk dia) bersalah dalam banyak hal”.
Ini merupakan pengakuan yang paling indah, yang menggambarkan keadaan manusia yang sebenarnya. Kita adalah orang-orang yang telah gagal untuk menaati standar Allah. Kita gagal untuk mencapai ukuran Allah. Kita gagal untuk tetap berada dalam batasan perintah Allah. Kita adalah orang-orang yang berdosa. Tetapi kita bersyukur, karena dosa itu bukanlah kisah akhir bagi kita. Ada kisah kasih dari Allah. Dia mengambil solusi. Allah mengambil tindakan untuk menyelesaikan dosa kita di hadapan-Nya . Amin.