← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG BERDOA

Pdt. Dirk Roy Kolibu 30 September 2026 3 kali dilihat
GEREJA YANG BERDOA

Nats Alkitab: 1 Samuel 1:11 “Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya."”

Alkitab memperlihatkan bahwa ada pergumulan yang tidak selesai hanya karena seseorang sudah berdoa. Hana datang ke Silo dari tahun ke tahun dengan persoalan yang sama: ia tidak mempunyai anak, Penina terus menyakiti hatinya, dan luka itu semakin dalam karena persoalannya terjadi berulang kali di tengah kehidupan keluarganya sendiri. Kesedihan Hana begitu berat sehingga ia menangis dan tidak mau makan. Ia bahkan sempat disalahpahami oleh Eli ketika berdoa, seolah-olah penderitaannya tidak cukup berat sehingga masih harus disalahmengerti oleh orang yang seharusnya menjadi pemimpin rohani. Namun Hana tidak berhenti datang kepada Tuhan. Ia tidak menyembunyikan kepahitannya, tidak berpura-pura kuat, dan tidak mengganti doanya dengan kepahitan. Ia justru mencurahkan seluruh isi hatinya di hadapan Allah. Di sinilah kisah Hana menjadi sangat dekat dengan kehidupan jemaat: ada doa yang sudah lama dinaikkan, ada kebutuhan yang terus dibawa kepada Tuhan, ada jawaban yang belum terlihat, dan ada saat ketika penantian mulai menguji bukan hanya kesabaran kita, tetapi juga cara kita memandang Tuhan. Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Apakah Tuhan akan memberikan apa yang saya minta?” tetapi, “Apa yang terjadi pada hati saya ketika Tuhan belum memberikan apa yang saya minta?”

Kedalaman doa Hana dapat dilihat melalui tiga kata Ibrani. Pertama, זָכַר (zākar), “mengingat,” yang digunakan ketika Hana meminta Tuhan mengingat dirinya; ungkapan ini bukan berarti Allah mengalami kelupaan, tetapi menyatakan kerinduan agar Allah memperhatikan penderitaannya dan bertindak menurut kehendak-Nya. Kedua, נֶפֶשׁ (nephesh), “jiwa, kehidupan, atau seluruh keberadaan diri,” yang memperlihatkan bahwa penderitaan Hana telah menyentuh bagian terdalam dari kehidupannya. Ketiga, נָתַן (nātan), “memberikan,” yang menjadi sangat penting karena Hana bukan hanya meminta seorang anak, tetapi berjanji akan memberikan anak itu kembali kepada Tuhan. Richard D. Phillips melihat doa Hana sebagai ekspresi iman yang membawa kebutuhan yang sangat pribadi ke hadapan Allah yang berdaulat, sedangkan Dale Ralph Davis menunjukkan bahwa penderitaan Hana justru mendorongnya semakin dekat kepada Tuhan sehingga air mata, kebingungan, dan keputusasaannya menjadi bagian dari persekutuannya dengan Allah. Dengan demikian, doa Hana memperlihatkan sebuah kedalaman yang sering kita lewatkan: ia memang meminta sesuatu yang sangat ia inginkan, tetapi ia tidak menempatkan keinginannya di atas kehendak Allah. Ia menginginkan Samuel, tetapi ia bersedia memberikan Samuel kembali kepada Tuhan. Karena itu, doa bukanlah usaha untuk membuat Tuhan memiliki keinginan yang sama dengan kita; doa adalah keberanian membawa keinginan kita yang paling dalam kepada Tuhan sambil tetap mengakui bahwa Tuhan lebih besar daripada apa pun yang kita inginkan dari-Nya.

Menariknya, setelah Hana selesai berdoa, Samuel belum lahir dan keadaan objektifnya belum berubah. Namun 1 Samuel 1:18 mencatat bahwa Hana pergi, makan, dan wajahnya tidak lagi muram. Dengan kata lain, jawaban belum terlihat, tetapi sesuatu di dalam diri Hana telah berubah. Temuan Sarah A. Schnitker dan Kelsy L. Richardson (2019) mengenai praktik syukur yang dibingkai sebagai doa menunjukkan adanya peningkatan tertentu dalam gratitude, positive affect, dan hope pada kondisi penelitian mereka. Temuan tersebut tidak membuktikan bagaimana Allah bekerja dalam kehidupan Hana, tetapi memberikan perspektif bahwa praktik doa dapat berkaitan dengan perubahan pengalaman batin seseorang. Karena itu, ketika jemaat berdoa untuk anak, pasangan, pekerjaan, kesehatan, ekonomi, pelayanan, atau masa depan yang belum jelas, kita tidak hanya perlu bertanya, “Kapan Tuhan memberikan apa yang saya minta?” tetapi juga, “Apakah selama menunggu saya sedang belajar mempercayakan apa yang saya inginkan kepada Tuhan?” Sebab ada perbedaan antara membawa sesuatu kepada Tuhan dan tetap menggenggamnya seolah-olah Tuhan harus memberikannya sesuai waktu dan cara kita. Gereja yang berdoa adalah gereja yang berani meminta dengan sungguh-sungguh, menunggu dengan setia, dan menyerahkan dengan rela. Hana akhirnya menerima Samuel, tetapi sebelum menerima anak itu dalam pelukannya, ia terlebih dahulu belajar melepaskan Samuel ke dalam tangan Tuhan. Di situlah doa menjadi lebih daripada permohonan: doa menjadi proses ketika Tuhan mengajar kita memiliki sesuatu tanpa diperbudak olehnya, menginginkan sesuatu tanpa menjadikannya berhala, dan menunggu sesuatu tanpa kehilangan Tuhan di tengah penantian.

Tuhan Yesus Memberkati

Referensi:

  • Davis, Dale Ralph. (2000). 1 Samuel: Looking on the Heart. Focus on the Bible Commentary. Fearn, Ross-shire: Christian Focus Publications.
  • Phillips, Richard D. (2012). 1 Samuel. Reformed Expository Commentary. Phillipsburg, NJ: P&R Publishing.
  • Schnitker, Sarah A., & Richardson, Kelsy L. (2019). Framing Gratitude Journaling as Prayer Amplifies Its Hedonic and Eudaimonic Well-Being, but Not Health, Benefits. The Journal of Positive Psychology, 14(4), 427–439. https://doi.org/10.1080/17439760.2018.1460690
  • Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.