← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja yang Berdoa

Pdt. Dirk Kolibu 13 October 2026 4 kali dilihat
Gereja yang Berdoa

Nats Alkitab: Kejadian 22:1–14

“Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."” (Kejadian 22:2)

Ada masa ketika doa tidak langsung membuat keadaan menjadi mudah, bahkan ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Abraham mengalami ujian yang sangat berat ketika Allah memintanya mempersembahkan Ishak, anak yang telah lama dinantikan dan yang melalui dirinya janji Allah akan digenapi. Bayangkan pergumulan seorang ayah yang harus menghadapi perintah yang begitu sulit dipahami, sementara masa depan yang dijanjikan Allah tampak seolah-olah bertentangan dengan apa yang sedang dimintakan kepadanya. Dalam kehidupan kita, ujian iman dapat hadir melalui penyakit, kehilangan, konflik keluarga, kegagalan, atau keadaan yang membuat kita bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau mengizinkan ini terjadi?” Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan: Kejadian 22 tidak mencatat doa panjang Abraham ketika menghadapi ujian tersebut; yang terlihat adalah ketaatan, penyembahan, dan kepercayaannya kepada Allah. Karena itu, kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan doa tidak hanya diuji ketika kita mampu mengucapkan kata-kata yang indah, tetapi juga ketika kita harus tetap mempercayai Tuhan di tengah keadaan yang belum kita pahami. Iman yang dewasa bukan berarti kita selalu mengerti jalan Tuhan, melainkan tetap mencari dan menaati-Nya ketika jalan itu belum dapat kita mengerti.

Dalam kisah ini, tiga istilah Ibrani memperdalam pemahaman kita tentang ujian iman Abraham. Pertama, נָסָה (nāsāh), yang berarti menguji; Kejadian 22:1 menggunakan istilah ini untuk menunjukkan bahwa Allah sedang menguji Abraham, bukan menggoda dia untuk melakukan kejahatan. Gordon J. Wenham, dalam Genesis 16–50, menjelaskan ujian ini dalam kerangka perkembangan relasi Abraham dengan Allah dan penggenapan janji-Nya. Dengan demikian, ujian tersebut menyingkapkan apakah Abraham tetap mempercayai Allah ketika janji yang diterimanya seolah-olah berada dalam ketegangan dengan perintah yang dihadapinya. Kedua, יָרֵאאֱלֹהִים (yərēʾʾĕlōhîm), yang berarti “takut akan Allah,” muncul dalam Kejadian 22:12 ketika Allah menyatakan bahwa Abraham tidak segan menyerahkan anaknya kepada-Nya. Bruce K. Waltke, dalam Genesis: A Commentary, menempatkan tindakan Abraham dalam kerangka iman dan ketaatan kepada Allah; takut akan Allah di sini bukan sekadar rasa gentar, melainkan penghormatan mendalam yang membentuk kesetiaan seseorang kepada-Nya. Ketiga, יִרְאֶה־לּוֹ (yirʾeh-lô), yang dalam Kejadian 22:8 dapat diterjemahkan “Allah akan menyediakan bagi-Nya,” merupakan perkataan Abraham ketika Ishak bertanya tentang anak domba untuk korban bakaran. Wenham melihat jawaban Abraham dalam alur narasi yang bergerak menuju penyediaan Allah, yang kemudian ditegaskan ketika seekor domba jantan tersedia sebagai pengganti Ishak dalam ayat 13–14. Ketiga istilah ini memperlihatkan perkembangan pesan yang saling berkaitan: Allah menguji iman Abraham, Abraham menunjukkan takut akan Allah melalui ketaatannya, dan Allah menyatakan pemeliharaan-Nya. Namun, kisah ini tidak mengajarkan bahwa setiap penderitaan merupakan ujian langsung dari Allah atau bahwa manusia harus menaati perintah yang membahayakan orang lain; kisah ini secara khusus menegaskan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya dan kepercayaan Abraham di tengah ujian yang tidak mudah dipahami.

Karena itu, ketika kita menghadapi pencobaan dan keadaan yang sulit dipahami, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan telah meninggalkan kita. Datanglah kepada-Nya dengan jujur: sampaikan ketakutan, kebingungan, dan kesedihan kita, lalu mintalah hikmat untuk mengetahui langkah yang benar. Dalam keluarga, ketika menghadapi konflik, berdoalah sebelum mengambil keputusan yang melukai; ketika mengalami kegagalan, carilah pertolongan dan belajarlah memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki; ketika masa depan terasa tidak pasti, tetaplah menjalankan tanggung jawab hari ini. Kita juga harus membedakan ujian iman dari tindakan jahat yang mengancam keselamatan: kisah Abraham tidak boleh digunakan untuk membenarkan kekerasan atau mengharuskan seseorang menaati perintah manusia yang membahayakan orang lain. Gereja yang Berdoa adalah komunitas yang belajar mempercayai Allah, mencari hikmat-Nya, dan saling menguatkan ketika jawaban belum terlihat. Sebab iman bukan keberanian untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, melainkan kesediaan menyerahkan hidup kepada-Nya sambil tetap melakukan apa yang benar.

Tuhan Yesus Memberkati

Referensi:

 Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.

 Waltke, Bruce K., with Cathi J. Fredricks. (2001). Genesis: A Commentary. Zondervan.

 Wenham, Gordon J. (1994). Genesis 16–50. Word Biblical Commentary, Vol. 2. Word Books.