← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG BERSAKSI

Pdt. Dirk Roy Kolibu 17 September 2026 3 kali dilihat
GEREJA YANG BERSAKSI

Baca: 2 Timotius 4:3–4 “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.”

 

Ada masa ketika masalah gereja bukan karena tidak ada firman, tetapi karena orang tidak lagi menyukai firman yang benar. Paulus memperingatkan Timotius bahwa akan datang waktunya ketika orang tidak dapat menerima ajaran sehat. Mereka tetap ingin mendengar sesuatu, tetapi tidak lagi bersedia mendengar sesuatu yang mengoreksi hidup mereka. Mereka memilih pengajaran yang membuat nyaman, cerita yang menarik, pengalaman yang spektakuler, bahkan tahyul dan berbagai keyakinan yang tidak memiliki dasar firman. Karena itu Paulus berkata bahwa mereka akan mengumpulkan guru-guru “menurut kehendaknya”. Artinya, yang menentukan bukan lagi “Apa yang benar di hadapan Allah?”, tetapi “Apa yang ingin saya dengar?” Di titik inilah gereja menghadapi bahaya yang sangat serius: ketika selera jemaat mulai menentukan isi pemberitaan, kebenaran dapat perlahan-lahan digeser oleh apa yang menyenangkan telinga.

Paulus memakai kata ὑγιαίνω (hygiainō), yang berarti sehat atau berada dalam keadaan baik, untuk menggambarkan pengajaran yang membangun iman secara benar; kemudian μῦθος (mythos), yang berarti dongeng, cerita atau kisah yang tidak memiliki dasar kebenaran yang kokoh; dan κνηθόμενοι (knēthomenoi), dari κνήθω (knēthō), yang berarti menggelitik atau menggaruk, sebuah gambaran tentang telinga yang ingin terus “digelitik” oleh sesuatu yang menyenangkan. George W. Knight III menjelaskan bahwa “ajaran sehat” menunjuk pada pengajaran yang benar dan menghasilkan kehidupan yang sehat, sedangkan penolakan terhadapnya menunjukkan persoalan bukan sekadar intelektual, tetapi juga kehendak hati. Philip H. Towner menegaskan bahwa “dongeng” dalam konteks ini menggambarkan pengajaran yang menjauh dari kebenaran Injil dan mengikuti keinginan manusia. Jadi, persoalannya bukan sekadar orang menyukai cerita. Persoalannya adalah ketika seseorang lebih memilih sesuatu yang menyenangkan telinga daripada sesuatu yang menyelamatkan, membentuk, dan mengoreksi hidupnya.

Karena itu, gereja yang bersaksi tidak boleh mengganti kebenaran hanya karena kebenaran sedang tidak populer. Gereja tetap dipanggil untuk memberitakan firman, “nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (ay. 2). Ini berarti gereja tidak boleh menjadi pengikut selera zaman. Ketika orang lebih senang mendengar ramalan daripada firman, tahyul daripada iman, sensasi daripada kebenaran, dan janji-janji instan daripada pertobatan, gereja harus tetap berdiri dengan kasih tetapi juga dengan ketegasan. Sebab tugas gereja bukan membuat telinga selalu nyaman; tugas gereja adalah menjaga hati tetap berakar pada kebenaran. Kesaksian yang sejati bukanlah mengatakan apa yang ingin didengar orang, tetapi dengan kasih dan kesabaran tetap mengatakan apa yang perlu didengar manusia di hadapan Allah.

Tuhan Yesus Memberkati

 

Referensi:

  • Knight III, George W. (1992). The Pastoral Epistles: A Commentary on the Greek Text. Eerdmans.
  • Towner, Philip H. (2006). The Letters to Timothy and Titus. New International Commentary on the New Testament. Eerdmans.
  • Strong, James. (1890). The Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.