Baca: 1 Korintus 13:1–7
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (13:1–2)
Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan gereja: kita dapat begitu sibuk memperdebatkan siapa yang paling benar tentang doktrin, tetapi lupa bertanya apakah cara kita mempertahankan kebenaran masih mencerminkan Kristus. Perbedaan pemahaman tentang baptisan, keselamatan, karunia rohani, predestinasi, gereja, akhir zaman, atau berbagai persoalan teologis lainnya dapat berubah menjadi pertengkaran yang menghabiskan energi. Pengetahuan bertambah, argumen semakin tajam, tetapi hubungan persaudaraan justru semakin retak. Paulus tidak sedang mengatakan bahwa doktrin tidak penting. Sebaliknya, seluruh surat 1 Korintus menunjukkan betapa seriusnya ia memperhatikan kebenaran iman. Yang ia persoalkan adalah ketika pengetahuan tentang kebenaran tidak menghasilkan kehidupan yang benar. Karena itu, setelah berbicara tentang pengetahuan, karunia, dan iman, Paulus membawa jemaat kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar: tanpa kasih, semua yang mereka banggakan kehilangan maknanya.
Di sinilah tiga kata Paulus menjadi sangat penting. γινώσκω (ginōskō), "mengetahui atau mengenal" (Strong's G1097), menunjuk pada pengetahuan yang dimiliki; ἀγάπη (agapē), "kasih" (Strong's G26), menunjuk pada kasih yang berorientasi pada kebaikan orang lain; dan οἰκοδομέω (oikodomeō), "membangun atau membangun sesama" (Strong's G3618), memperlihatkan arah yang seharusnya dituju oleh pengetahuan dalam kehidupan komunitas. Anthony C. Thiselton menjelaskan bahwa persoalan jemaat Korintus bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, tetapi penggunaan pengetahuan yang tidak membangun relasi komunitas. Sejalan dengan itu, Gordon D. Fee menegaskan bahwa bagi Paulus, pengetahuan Kristen tidak pernah berdiri sebagai kebanggaan pribadi; pengetahuan harus ditempatkan di bawah kasih yang mencari kebaikan sesama. Karena itu, ukuran kedewasaan gereja bukan hanya seberapa tepat ia dapat menjelaskan doktrin, tetapi juga seberapa benar doktrin itu membentuk cara gereja berbicara, memperlakukan, mengampuni, dan hidup bersama. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi senjata; kasih tanpa kebenaran kehilangan arah. Gereja dipanggil memegang keduanya.
Maka, ketika perdebatan doktrin mulai membuat kita merendahkan saudara seiman, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya apa yang kita yakini, tetapi juga apa yang keyakinan itu sedang lakukan terhadap hati kita. Kita boleh berbeda dalam penafsiran, berdiskusi dengan serius, bahkan mempertahankan keyakinan teologis dengan argumentasi yang kuat. Namun, jangan sampai kemenangan dalam perdebatan menjadi kekalahan dalam kasih. Jangan sampai kita begitu ingin membuktikan bahwa kita benar, sampai orang lain tidak lagi dapat melihat Kristus melalui cara kita memperlakukan mereka. Gereja yang bersaksi bukan gereja yang berhenti berbicara tentang kebenaran; gereja yang bersaksi adalah gereja yang menghidupi kebenaran itu dengan kasih, sehingga dunia tidak hanya mendengar apa yang gereja percaya, tetapi juga melihat bagaimana kebenaran itu mengubah cara gereja mengasihi.
Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:
Fee, Gordon D. (1987). The First Epistle to the Corinthians. New International Commentary on the New Testament. Eerdmans.
- Thiselton, Anthony C. (2000). The First Epistle to the Corinthians: A Commentary on the Greek Text. New International Greek Testament Commentary. Eerdmans.
- Strong, James. (1890). The Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.