← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Bersaksi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 28 September 2026 1 kali dilihat
Gereja Yang Bersaksi

Nats Alkitab: Roma 12:15 “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

 

Ada kalanya kita sungguh mengasihi seseorang, tetapi ketika melihat hidupnya semakin berhasil, hati kita justru terasa tidak nyaman. Kita ikut tersenyum ketika ia mendapat promosi, tetapi di dalam hati muncul pertanyaan, “Mengapa dia, bukan saya?” Kita mengucapkan selamat, tetapi diam-diam membandingkan hidup kita dengannya. Kita melihat rumahnya, pekerjaannya, keluarganya, pelayanannya, pendidikannya, pencapaiannya, bahkan jumlah orang yang menghargainya, lalu tanpa sadar keberhasilan orang lain berubah menjadi ukuran untuk menilai kehidupan kita sendiri. Di situlah kecemburuan mulai bekerja: kita tidak lagi hanya melihat apa yang Tuhan berikan kepada orang lain, tetapi mulai menghitung apa yang menurut kita Tuhan belum berikan kepada kita. Padahal, perjalanan hidup setiap orang tidak pernah dirancang Tuhan untuk menjadi perlombaan dengan orang lain.

Paulus berkata, συγχαίρω (synchairō), “bersukacita bersama,” sehingga sukacita orang lain seharusnya tidak menjadi ancaman terhadap sukacita kita. Sebaliknya, kita dipanggil untuk χαίρω (chairō), “bersukacita,” bersama mereka yang mengalami sukacita, karena kasih Kristen memiliki kemampuan untuk merayakan berkat orang lain tanpa merasa kehilangan bagian kita sendiri. Di sisi lain, kehidupan yang terus-menerus dibandingkan mudah membawa kita pada φθόνος (phthonos), yaitu iri hati yang tidak sekadar menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tetapi dapat merasa terganggu oleh kenyataan bahwa orang lain memilikinya. Douglas J. Moo melihat Roma 12:15 sebagai bagian dari kehidupan komunitas yang dibentuk oleh kasih, di mana orang percaya belajar memasuki sukacita dan penderitaan sesamanya. Sementara itu, Robert H. Mounce menekankan bahwa perintah ini menuntut kita keluar dari orientasi diri dan benar-benar hadir dalam pengalaman orang lain. Dengan demikian, mengalahkan kecemburuan bukan terutama dengan memaksa diri berkata, “Saya tidak boleh iri,” tetapi dengan belajar melihat keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk bersyukur kepada Allah, bukan sebagai ancaman terhadap nilai diri kita.

Karena itu, ketika suatu hari kita melihat seseorang berhasil lebih dahulu daripada kita, jangan buru-buru bertanya, “Mengapa hidupnya lebih baik daripada hidup saya?” Berhentilah sejenak dan tanyakan, “Apa yang sedang terjadi di dalam hati saya?” Mungkin yang terluka bukan karena orang itu berhasil, tetapi karena keberhasilannya mengingatkan kita pada impian yang belum tercapai, doa yang belum terjawab, atau bagian hidup kita yang selama ini kita rasa kurang. Bawalah perasaan itu kepada Tuhan dengan jujur. Belajar mengucapkan selamat tanpa kepahitan, belajar mendoakan tanpa membandingkan, dan belajar bersyukur tanpa harus memiliki apa yang dimiliki orang lain adalah bagian dari kedewasaan iman. Sebab gereja yang bersaksi bukan hanya terlihat ketika kita menolong orang yang sedang jatuh; gereja juga bersaksi ketika kita mampu tetap mengasihi orang yang sedang naik ketika kita sendiri merasa sedang tertinggal. Di situlah dunia melihat bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh seberapa tinggi posisi kita dibandingkan orang lain, tetapi oleh siapa kita di hadapan Tuhan.

Tuhan Yesus Memberkati

 

Referensi:

  • Moo, Douglas J. (2014). Encountering the Book of Romans: A Theological Survey. 2nd ed. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
  • Mounce, Robert H. (1995). Romans. New American Commentary, vol. 27. Nashville: Broadman & Holman Publishers.
  • Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.