Baca: Amsal 29:18
“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat; berbahagialah orang yang berpegang pada hukum.”
Tidak semua gereja hancur karena ajaran sesat. Sebagian gereja justru terluka karena kehilangan arah. Pada awalnya, Tuhan memberikan visi yang kudus: memberitakan Injil, memuridkan orang percaya, membangun tubuh Kristus, dan menghadirkan kasih Allah kepada dunia. Namun seiring berjalannya waktu, visi itu perlahan bergeser. Misi Kerajaan Allah digantikan oleh kepentingan kelompok. Panggilan ilahi dikalahkan oleh ambisi pribadi. Keputusan-keputusan tidak lagi ditentukan oleh pertanyaan, "Apa kehendak Tuhan?", tetapi oleh pertimbangan, "Apa yang saya inginkan?" Akibatnya, gereja yang dahulu lahir dari doa akhirnya dijalankan oleh ego manusia. Kata Ibrani ḥāzôn (חָזוֹן) dalam Amsal 29:18 menurut Strong's Exhaustive Concordance (H2377) berarti “wahyu, penglihatan ilahi, atau arahan yang berasal dari Allah.” Ketika ḥāzôn itu tidak lagi menjadi kompas pelayanan, gereja mulai kehilangan identitasnya. Program mungkin tetap berjalan, tetapi tujuan sudah berubah. Organisasi masih berdiri, tetapi hati sudah tidak lagi searah dengan kehendak Tuhan.
Banyak konflik, perpecahan, dan luka yang terjadi di dalam gereja sesungguhnya bukan dimulai dari perbedaan pendapat, melainkan dari pergeseran visi. Ketika pemimpin lebih mempertahankan pengaruh daripada kebenaran, ketika penerus dipilih berdasarkan kedekatan dan bukan panggilan, ketika keputusan diambil demi menjaga kekuasaan dan bukan demi kemuliaan Kristus, maka benih perpecahan sedang ditaburkan. Tidak sedikit gereja berhenti bertumbuh bukan karena Tuhan berhenti bekerja, melainkan karena manusia mulai berjalan di jalurnya sendiri. Rick Warren mengingatkan bahwa gereja yang sehat dibangun di atas tujuan yang berasal dari Allah, bukan di atas kepribadian seorang pemimpin (Warren, 1995, p. 81). Senada dengan itu, Aubrey Malphurs menegaskan bahwa ketika visi tidak lagi jelas, organisasi akan kehilangan arah dan akhirnya terjebak dalam konflik internal (Malphurs, 2007, p. 33). Karena itu, gereja yang bersaksi bukanlah gereja yang sibuk mempertahankan kehendak manusia, melainkan gereja yang dengan rendah hati terus kembali kepada visi yang mula-mula Tuhan percayakan. Sebab gereja tidak pernah menjadi milik seorang pendeta, seorang majelis, atau sebuah kelompok. Gereja adalah milik Kristus. Dan ketika manusia mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi milik Tuhan, sejarah menunjukkan bahwa perpecahan sering kali hanya tinggal menunggu waktu. (Dirk Roy)
Daftar Pustaka
- Malphurs, A. (2013). Advanced Strategic Planning. Grand Rapids, MI: Baker Books.
- Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson. (H2377, ḥāzôn).
- Warren, R. (1995). The Purpose Driven Church. Grand Rapids, MI: Zondervan.