Nats Alkitab: Yohanes 12:42–43 “Namun banyak juga di antara pemimpin yang percaya kepada-Nya, tetapi oleh karena orang-orang Farisi mereka tidak mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.”
Mengapa seseorang yang telah lama berada dalam lingkungan keagamaan, memiliki pengetahuan tentang iman, bahkan dipercayakan tanggung jawab untuk memimpin orang lain, terkadang justru mengalami kesulitan ketika harus mengakui kesalahan dan sungguh-sungguh bertobat? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menuduh setiap pemimpin agama atau kelembagaan agama, sebab banyak pemimpin justru menunjukkan kerendahan hati dan keberanian untuk mengoreksi dirinya. Namun, ada kecenderungan yang patut diperhatikan: semakin besar tanggung jawab, pengaruh, reputasi, dan kepercayaan yang melekat pada seseorang, semakin besar pula tekanan untuk mempertahankan citra diri dan keputusan yang telah dibuat. Yohanes 12:42–43 memperlihatkan sebuah situasi yang mengejutkan: ada di antara para pemimpin yang percaya kepada Yesus, tetapi mereka tidak berani mengakuinya secara terbuka karena takut dikucilkan dan lebih menyukai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah. Dengan demikian, persoalannya tidak selalu terletak pada ketidaktahuan terhadap kebenaran. Seseorang dapat mengetahui apa yang benar, memahami kehendak Tuhan, bahkan memiliki posisi yang dihormati dalam komunitas dan lembaga keagamaan, tetapi ketika kebenaran itu menuntut pengakuan kesalahan, perubahan keputusan, atau pelepasan kepentingan tertentu, muncul pergumulan yang jauh lebih dalam: apakah saya lebih takut kehilangan kehormatan manusia atau kehilangan perkenanan Allah? Di sinilah pertobatan menjadi ujian yang sesungguhnya, sebab semakin tinggi posisi seseorang, semakin mahal harga yang mungkin ia rasakan ketika harus berkata dengan jujur, “Saya salah; saya perlu dikoreksi; saya harus kembali kepada Tuhan.”
Di sinilah Yohanes memakai beberapa kata yang sangat tajam. Pertama, ὁμολογέω (homologeō), yang berarti mengakui atau menyatakan secara terbuka; persoalannya bukan sekadar apa yang seseorang percaya di dalam hati, tetapi apakah ia berani mengakuinya di hadapan publik. Kedua, φιλέω (phileō), yang dalam ayat 43 menunjuk pada “lebih menyukai” atau memiliki keterikatan afektif; Yohanes sedang memperlihatkan bahwa hati manusia dapat memiliki preferensi yang salah—lebih menyukai kehormatan manusia daripada kehormatan Allah. Ketiga, δόξα (doxa), yang berarti kemuliaan, kehormatan, atau pengakuan; masalah para pemimpin tersebut adalah pusat kehormatan mereka telah bergeser. D. A. Carson melihat Yohanes 12:42–43 sebagai gambaran tentang iman yang terhambat oleh ketakutan terhadap konsekuensi sosial, sementara Andreas J. Köstenberger menekankan bahwa respons terhadap Yesus dalam Injil Yohanes selalu menuntut keputusan yang membawa konsekuensi publik. Dengan demikian, kesulitan bertobat pada seorang pemimpin sering kali bukan karena ia tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena kebenaran itu menuntutnya merendahkan diri, mengakui kesalahan, dan bersedia kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap penting. Orang biasa mungkin takut kehilangan pekerjaan; pemimpin rohani dapat takut kehilangan “wajah rohaninya.”
Karena itu, gereja yang bersaksi harus berani memperlihatkan bahwa pertobatan bukan tanda kegagalan seorang pemimpin, tetapi bukti bahwa ia masih berada di bawah pemerintahan Kristus. Pemimpin yang sungguh-sungguh dewasa bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang ketika salah tidak menggunakan jabatan, gelar, ayat Alkitab, atau pengaruhnya untuk melindungi dirinya dari koreksi. Ketika ditegur, ia tidak segera mencari kambing hitam; ketika terbukti salah, ia tidak memutarbalikkan cerita; ketika meminta maaf, ia tidak memberikan permintaan maaf yang penuh alasan; dan ketika harus memperbaiki kerusakan, ia bersedia membayar harga dari kesalahannya. Di sinilah kesaksian menjadi nyata: orang akan lebih mudah percaya kepada Injil ketika melihat bahwa pemimpin Kristen tidak hanya mengajarkan pertobatan kepada orang lain, tetapi juga bersedia bertobat ketika dirinya sendiri ditegur oleh Firman Tuhan. Sebab itu, jangan sampai kita menjadi orang yang setiap minggu mengundang orang lain datang kepada Kristus, tetapi ketika Kristus melalui Firman-Nya menegur kita, kita justru bersembunyi di balik jabatan. Kesaksian terbesar seorang pemimpin bukanlah bahwa ia selalu benar, tetapi bahwa ketika ia salah, ia cukup rendah hati untuk kembali kepada kebenaran.
“Pemimpin yang takut kehilangan kehormatan manusia akan sulit mengakui kesalahan; tetapi pemimpin yang takut kehilangan kehormatan Allah akan berani bertobat.”
Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:
- Carson, D. A. (1991). The Gospel According to John. Eerdmans.
- Köstenberger, A. J. (2004). John. Baker Academic.
- Köstenberger, A. J., Kellum, L. S., & Quarles, C. L. (2016). The Cradle, the Cross, and the Crown (2nd ed.). B&H Academic.
- Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.