← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Bersaksi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 15 October 2026 2 kali dilihat
Gereja Yang Bersaksi

Nats Alkitab: Kisah Para Rasul 3:1–26 “Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!"

Apa artinya mengatakan bahwa Kerajaan Allah sudah bekerja? Kisah Para Rasul 3 menceritakan Petrus dan Yohanes yang bertemu dengan seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir di pintu gerbang Bait Allah. Setiap hari, orang itu dibawa ke sana untuk meminta sedekah. Ia mengharapkan uang dari orang-orang yang datang beribadah, tetapi Allah menghadirkan sesuatu yang jauh melampaui harapannya, yaitu pemulihan melalui nama Yesus Kristus. Petrus tidak memiliki emas atau perak untuk diberikan, tetapi ia bersaksi tentang kuasa Yesus yang bangkit. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bukan sekadar konsep teologis tentang pemerintahan Allah pada masa depan, melainkan pemerintahan Allah yang telah dinyatakan melalui Yesus Kristus dan diperlihatkan melalui karya-Nya. Kerajaan itu menghadirkan pemulihan, mengangkat martabat manusia, dan mengarahkan perhatian kepada Kristus. Dalam kehidupan masa kini, gereja dapat memiliki gedung yang megah, program pelayanan yang padat, musik yang spektakuler, dan aktivitas digital yang luas, tetapi semuanya kehilangan makna apabila gereja tidak menghadirkan kesaksian tentang Kristus kepada manusia yang terluka, tersisih, dan membutuhkan pertolongan. Gereja yang bersaksi bukan hanya gereja yang berbicara tentang Allah, melainkan gereja yang melalui perkataan dan tindakannya menunjukkan bahwa Allah sedang bekerja. Kisah Para Rasul 3 mengingatkan kita bahwa kehadiran gereja seharusnya membawa pengharapan bagi mereka yang kehilangan harapan, kepedulian bagi mereka yang diabaikan, dan pemulihan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Mukjizat dalam kisah ini bukanlah alasan untuk menganggap bahwa setiap orang sakit pasti langsung disembuhkan secara fisik, melainkan tanda yang menunjuk kepada kuasa Yesus Kristus yang bangkit dan menegaskan kebenaran pemberitaan para rasul.

Dalam teks Yunani, terdapat tiga istilah penting yang memperjelas makna kesaksian gereja. Pertama, ἐν τῷ ὀνόματι (en tō onomati), yang berarti “dalam nama”. Ungkapan ini terdapat dalam Kisah Para Rasul 3:6 dan menunjuk kepada otoritas Yesus Kristus. Petrus tidak sedang memamerkan kemampuan pribadinya, tetapi menyatakan bahwa kuasa yang memulihkan orang lumpuh itu berasal dari Kristus. Kedua, ἔγειρε καὶ περιπάτει (egeire kai peripatei), yang berarti “bangunlah dan berjalanlah”. Perintah ini memperlihatkan bahwa kesaksian Injil dalam peristiwa tersebut disertai tindakan pemulihan yang nyata. Orang yang sebelumnya tidak dapat berjalan kini berdiri, melangkah, dan memuji Allah (Kis. 3:7–8). Ketiga, ἀποκατάστασις (apokatastasis), yang berarti “pemulihan” atau “pemulihan kembali”. Istilah ini muncul dalam Kisah Para Rasul 3:21 ketika Petrus berbicara mengenai waktu pemulihan segala sesuatu. Dengan demikian, kesembuhan orang lumpuh tersebut menjadi tanda yang mengarahkan perhatian kepada karya Allah yang lebih luas dalam rencana keselamatan-Nya melalui Kristus. C. K. Barrett, dalam A Critical and Exegetical Commentary on the Acts of the Apostles (1994), membahas Kisah Para Rasul dengan perhatian terhadap bahasa, konteks, dan argumentasi teks. F. F. Bruce, dalam The Book of the Acts (1988), menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam Kisah Para Rasul dalam kerangka perkembangan kesaksian gereja mula-mula tentang Yesus Kristus. Sementara itu, Craig S. Keener, dalam Acts: An Exegetical Commentary (2014), memberikan pembahasan kontekstual mengenai mukjizat, pemberitaan Petrus, dan kesaksian para rasul. Ketiga karya tersebut dapat menjadi rujukan untuk memahami hubungan antara mukjizat, pemberitaan Injil, dan otoritas Yesus dalam Kisah Para Rasul 3. Dari kisah ini, kita belajar bahwa gereja tidak boleh menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat perhatian. Gereja bukan sumber keselamatan, melainkan saksi yang menunjuk kepada Kristus. Karena itu, pelayanan tidak boleh berubah menjadi panggung untuk membesarkan nama pemimpin, menjadikan mukjizat sebagai tontonan, atau memanfaatkan penderitaan manusia demi popularitas. Sebaliknya, setiap tindakan pelayanan harus membawa orang semakin mengenal Yesus Kristus, Sang Raja yang berkuasa dan menghadirkan pengharapan.

Karena itu, gereja yang bersaksi harus memperlihatkan bahwa Kerajaan Allah sedang bekerja melalui tindakan nyata yang mencerminkan karakter Kristus. Kesaksian tidak cukup berhenti pada khotbah, ibadah, atau aktivitas digital, tetapi harus menyentuh kehidupan manusia: menolong mereka yang berkekurangan, mendampingi yang terluka, membela yang tertindas, dan menegakkan kebenaran ketika ketidakadilan dianggap biasa. Petrus tidak menjadikan dirinya pusat perhatian setelah orang lumpuh itu disembuhkan, tetapi mengarahkan orang banyak kepada Yesus Kristus (Kis. 3:12–16). Inilah panggilan gereja masa kini: bukan membangun popularitas, melainkan menyatakan kuasa dan kasih Kristus melalui integritas serta kepedulian. Kita mungkin tidak memiliki emas dan perak, tetapi setiap orang percaya memiliki kesempatan untuk menjadi saluran berkat bagi sesamanya. Kerajaan Allah sudah bekerja; gereja dipanggil untuk membuat kesaksian tentang Kristus terlihat melalui kehidupan yang memulihkan, bukan sekadar terdengar melalui perkataan.

Tuhan Yesus Memberkati

Referensi:

  • Barrett, C. K. (1994). A Critical and Exegetical Commentary on the Acts of the Apostles. Vol. 1. Edinburgh: T&T Clark.
  • Bruce, F. F. (1988). The Book of the Acts. Revised edition. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
  • Keener, Craig S. (2014). Acts: An Exegetical Commentary. Vol. 2, 3:1–14:28. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
  • Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.