Nats Alkitab: Kisah Para Rasul 5:38-39
“Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah."
Apa yang membuat kesaksian gereja tetap bertahan ketika menghadapi tekanan dan penolakan? Kisah Para Rasul 5 menceritakan para rasul yang menghadapi ancaman dari para pemimpin agama karena terus memberitakan Yesus Kristus. Ketika anggota Mahkamah Agama ingin mengambil tindakan keras terhadap mereka, Gamaliel, seorang Farisi yang dihormati, mengingatkan mereka bahwa gerakan yang berasal dari manusia pada akhirnya dapat lenyap, sedangkan sesuatu yang berasal dari Allah tidak dapat digagalkan oleh manusia. Ia menggunakan contoh gerakan Teudas dan Yudas orang Galilea untuk memperkuat pertimbangannya. Namun, perkataan Gamaliel tidak berarti bahwa setiap gerakan yang mengatasnamakan Tuhan pasti berasal dari Allah atau bahwa keberhasilan sebuah pelayanan otomatis membuktikan kebenarannya. Pesan utamanya adalah bahwa manusia tidak boleh bertindak gegabah seolah-olah mereka memiliki kuasa mutlak untuk menentukan pekerjaan Allah. Dalam kehidupan masa kini, gereja dapat menghadapi kritik, penolakan, tekanan sosial, bahkan ancaman ketika menyuarakan kebenaran. Namun, gereja juga perlu menguji dirinya sendiri agar tidak menyamakan ambisi pribadi, kepentingan lembaga, atau popularitas pemimpin dengan kehendak Allah. Gereja yang bersaksi tidak dibuktikan hanya oleh keberanian menghadapi lawan, tetapi juga oleh kesetiaan kepada Injil, integritas hidup, dan kerendahan hati untuk terus menguji apakah perkataan serta tindakannya sungguh mencerminkan Kristus.
Dalam teks Yunani, terdapat tiga istilah penting yang memperjelas pesan ini. Pertama, ἀφεῖτε (apheite), yang berarti “biarkanlah” atau “jangan ganggu”. Dalam Kisah Para Rasul 5:38, Gamaliel menggunakan kata ini untuk menyarankan agar para rasul tidak langsung dihukum, melainkan diberi ruang agar asal-usul gerakan mereka dapat terlihat. Sikap tersebut bukan ajakan untuk bersikap pasif terhadap segala sesuatu, melainkan peringatan agar keputusan besar tidak diambil berdasarkan kemarahan dan ketakutan. Kedua, καταλύω (katalyō), yang berarti “meruntuhkan”, “membubarkan”, atau “menghancurkan”. Dalam ayat 39, istilah ini menunjukkan keterbatasan manusia untuk menggagalkan pekerjaan yang sungguh-sungguh berasal dari Allah. Ketiga, θεομάχοι (theomachoi), yang berarti “orang-orang yang melawan Allah”. Gamaliel memperingatkan bahwa tindakan yang dimaksudkan untuk menghentikan para rasul justru dapat menempatkan para penentangnya dalam posisi melawan Allah.
F. F. Bruce, dalam The Book of the Acts, membahas nasihat Gamaliel dalam konteks pertentangan antara para rasul dan otoritas Yahudi serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan terhadap gerakan yang sedang berkembang. Craig S. Keener, dalam Acts: An Exegetical Commentary, memberikan perhatian pada konteks historis dan retoris pidato Gamaliel, termasuk penggunaan contoh gerakan terdahulu untuk mendukung argumennya. Dengan demikian, gereja perlu memahami bahwa kesaksian yang setia tidak bergantung pada kemampuan manusia mengendalikan hasil, tetapi pada kesetiaan menjalankan panggilan Allah. Pada saat yang sama, peringatan Gamaliel tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak kritik atau menghindari pertanggungjawaban. Gereja tetap harus terbuka terhadap koreksi, sebab kesetiaan kepada Allah tidak pernah membenarkan kesombongan, manipulasi, atau penyalahgunaan kuasa.
Karena itu, gereja yang bersaksi harus tetap memberitakan Injil sekalipun menghadapi penolakan, tetapi melakukannya dengan cara yang mencerminkan karakter Kristus. Ketika menerima kritik, kita perlu membedakan penolakan terhadap kebenaran dari teguran yang menunjukkan kesalahan kita. Keberhasilan pelayanan tidak otomatis membuktikan bahwa semua keputusan kita benar, sebagaimana hambatan tidak berarti Tuhan telah meninggalkan kita. Karena itu, kita harus terus menguji kesetiaan kepada Firman Tuhan, menjaga integritas, mengasihi sesama, dan berani mengakui kesalahan. Dalam keluarga, tempat kerja, pelayanan, dan ruang digital, kesaksian Kristen terlihat melalui keberanian menyatakan kebenaran tanpa merendahkan orang lain serta keteguhan mempertahankan integritas tanpa menghindari pertanggungjawaban. Gereja tidak dipanggil untuk memenangkan setiap perdebatan atau membuktikan bahwa dirinya selalu benar, tetapi untuk tetap setia kepada Kristus dan menyerahkan hasil pekerjaannya kepada kedaulatan Allah. Gereja yang bersaksi tidak berhenti ketika menghadapi tekanan, tidak menolak koreksi ketika dikritik, dan tidak mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri, melainkan tetap setia kepada Kristus dengan iman yang teguh dan kehidupan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:
- Bruce, F. F. (1988). The Book of the Acts. Revised edition. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
- Keener, Craig S. (2014). Acts: An Exegetical Commentary. Vol. 2, 3:1–14:28. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
- Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.