← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG MENGASIHI

Pdt. Dirk Roy Kolibu 18 September 2026 3 kali dilihat
GEREJA YANG MENGASIHI

Baca: Mazmur 73:21–26 “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntut aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya..”

Ada masa ketika luka manusia begitu dalam sehingga yang dipertanyakan bukan lagi hanya keadaan, tetapi Tuhan sendiri. Seseorang dapat kecewa kepada manusia karena dikhianati, ditinggalkan, diperlakukan tidak adil, atau disakiti oleh orang yang paling dipercayainya. Namun ketika doa yang terus dinaikkan seakan tidak memperoleh jawaban, harapan yang dipelihara justru berakhir dengan kehilangan, dan pertolongan yang dinantikan tidak datang pada saat yang paling dibutuhkan, kekecewaan kepada manusia dapat perlahan-lahan berubah menjadi kekecewaan kepada Tuhan. Asaf mengalami pergumulan seperti itu. Ia berkata, “Ketika hatiku merasa pahit.” Kata Ibrani יִתְחַמֵּץ (yitchametz), dari akar חָמֵץ (chamets), menggambarkan keadaan hati yang bergolak, getir, dan mengalami tekanan batin yang mendalam. Namun Alkitab tidak menyembunyikan pergumulan Asaf dan tidak menuntutnya berpura-pura kuat. Justru di tengah kepahitannya ia berkata, “Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.” Kata תָּמִיד (tamid) berarti “senantiasa” atau “terus-menerus”, sehingga pengakuan ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakmengertian Asaf tetap memilih berada dekat dengan Allah. James L. Mays melihat bahwa pergumulan Mazmur 73 mencapai perubahan perspektif ketika Allah kembali menjadi pusat dan kebaikan tertinggi bagi Asaf, sedangkan Willem A. VanGemeren menempatkan pengakuan akhir Asaf pada Allah sebagai tempat perlindungan dan “bagian” hidupnya. Jadi, pemulihan tidak selalu berarti semua pertanyaan memperoleh jawaban; terkadang pemulihan dimulai ketika seseorang kembali menyadari bahwa di tengah pertanyaan yang belum terjawab, Allah tetap memegang tangannya.

Karena itu, gereja yang mengasihi tidak boleh menjadi tempat yang menambah luka bagi orang yang sedang terluka. Ketika seseorang berkata, “Saya kecewa kepada Tuhan,” gereja tidak boleh tergesa-gesa menjawab, “Imanmu kurang.” Ketika seseorang menangis karena kehilangan, gereja tidak cukup hanya berkata, “Tuhan pasti punya rencana.” Ketika seseorang terluka karena pengkhianatan manusia, gereja tidak boleh langsung menuntutnya melupakan luka sebelum bersedia mendengarkan. Gereja dipanggil menjadi komunitas yang mendengar tanpa menghakimi, menemani tanpa menguasai, menegur tanpa mempermalukan, dan memulihkan tanpa memaksa. Kasih tidak selalu hadir dalam bentuk jawaban; terkadang kasih hadir dalam kesediaan untuk tetap tinggal bersama orang yang belum menemukan jawaban. Gereja tidak membenarkan kepahitan, tetapi juga tidak mempermalukan orang yang sedang bergumul dengannya. Gereja menolong orang yang terluka membawa kekecewaannya kepada Kristus, sehingga luka tidak berubah menjadi kepahitan, kepahitan tidak berubah menjadi sinisme, dan kekecewaan tidak berakhir dengan keterasingan dari Tuhan dan sesama. Sebab ada orang yang datang ke gereja bukan karena ia sudah kuat, tetapi karena ia sudah tidak kuat lagi. Di situlah kasih gereja diuji: bukan ketika seseorang mudah dikasihi, melainkan ketika ia datang dengan hati yang retak, pertanyaan yang sulit, dan iman yang hampir padam.

Karena itu, gereja yang mengasihi harus menjadi tempat di mana orang yang kecewa kepada manusia tidak semakin kecewa kepada gereja, dan orang yang sedang bergumul dengan Tuhan tidak semakin jauh dari Tuhan. Gereja mungkin tidak mampu menjelaskan mengapa penderitaan terjadi, tidak mampu mengembalikan apa yang telah hilang, dan tidak selalu mampu menjawab setiap “mengapa” yang lahir dari air mata. Tetapi gereja dapat melakukan sesuatu yang sangat berarti: tetap hadir. Hadir ketika seseorang menangis, hadir ketika ia belum mampu memahami, hadir ketika ia sedang belajar mengampuni, dan hadir ketika ia perlahan-lahan membangun kembali kepercayaannya. Asaf akhirnya tidak berkata, “Sekarang aku memahami semuanya,” tetapi berkata, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Inilah puncak iman: bukan memiliki jawaban atas semua misteri kehidupan, melainkan menemukan bahwa Allah tetap menjadi bagian kita ketika banyak hal lain telah hilang. Gereja yang mengasihi bukan gereja yang memaksa orang yang terluka untuk segera tersenyum, tetapi gereja yang berjalan bersamanya sampai air matanya kembali menjadi doa, kepahitannya kembali menjadi penyerahan, dan kekecewaannya tidak lagi menjauhkan dia dari Tuhan. Sebab kasih Kristus yang sejati bukan hanya berkata, “Tuhan ada bersamamu”; kasih itu hadir dan tinggal bersama orang yang terluka sampai ia kembali mampu berkata, “Engkau memegang tangan kananku.”. Amin

 

Referensi:

  • Mays, James L. 1994. Psalms. Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Louisville: John Knox Press.
  • VanGemeren, Willem A. 2008. “Psalms.” In The Expositor’s Bible Commentary: Revised Edition, Vol. 5, edited by Tremper Longman III and David E. Garland. Grand Rapids, MI: Zondervan..
  • Strong, James. (1890). The Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.