Baca: Markus 10:46–49 “Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau."”
Ada bentuk kasih yang sering luput dari perhatian kita: kasih bukan hanya soal memberi sesuatu, tetapi kesediaan untuk berhenti ketika kehidupan kita sedang berjalan. Bartimeus duduk di pinggir jalan, sementara Yesus sedang dikelilingi murid dan orang banyak. Ia bukan bagian dari rombongan, bukan orang penting, bahkan suaranya dianggap mengganggu. Orang banyak menyuruhnya diam karena perjalanan harus terus berjalan. Namun justru pada saat semua orang ingin melanjutkan langkah, Yesus berhenti. Di sinilah pengajaran tentang kasih menjadi sangat tajam. Kita dapat begitu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, rapat, keluarga, bahkan aktivitas rohani, sehingga orang yang sedang terluka terasa seperti gangguan terhadap agenda kita. Kita mungkin tidak membenci mereka; kita hanya merasa tidak punya waktu untuk berhenti. Padahal, kadang-kadang orang yang kita anggap mengganggu justru adalah orang yang sedang Tuhan tempatkan di sepanjang perjalanan kita.
Markus menggunakan tiga kata yang membentuk gerakan kasih yang sangat indah. Pertama, κράζω (krazō), “berseru dengan keras”, menggambarkan suara Bartimeus yang tidak lagi dapat disembunyikan. Kedua, ἐπιτιμάω (epitimaō), “menegur atau membungkam”, menunjukkan respons orang banyak yang ingin menghentikan suara itu. Namun kemudian muncul kata yang mengubah seluruh cerita: φωνέω (phōneō), “memanggil”. Bartimeus yang sebelumnya disuruh diam, kini dipanggil mendekat karena Yesus berhenti. Joel Marcus menunjukkan bahwa peristiwa Bartimeus merupakan bagian penting dari penggambaran Yesus sebagai Mesias yang sedang berjalan menuju penderitaan dan salib; justru di tengah perjalanan yang memiliki tujuan besar itu, Yesus tidak mengabaikan seorang yang dianggap tidak penting. Rikki E. Watts juga menempatkan narasi Markus dalam pola pembalikan Kerajaan Allah: mereka yang berada di pinggir dan tidak diperhitungkan justru memperoleh perhatian Yesus. Dengan demikian, kasih Kristen tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk orang lain?”, tetapi terlebih dahulu belajar bertanya, “Apakah saya masih mampu berhenti ketika seseorang membutuhkan saya?”
Mungkin hari ini kasih sedang mengetuk hidup kita melalui seseorang yang tidak masuk dalam jadwal kita: anggota keluarga yang ingin didengar, teman yang berulang kali menghubungi, rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan, mahasiswa yang membutuhkan perhatian, atau jemaat yang selama ini hanya kita lihat sekilas. Jangan sampai kita begitu sibuk melakukan banyak hal bagi Tuhan, tetapi tidak lagi mempunyai waktu untuk berhenti bagi manusia yang dikasihi Tuhan. Bartimeus tidak membutuhkan kerumunan yang lewat; ia membutuhkan Yesus yang berhenti. Kasih yang sejati tidak selalu dimulai dengan tangan yang memberi, tetapi dengan hati yang bersedia menghentikan langkah, mendengar suara yang selama ini dibungkam, lalu berkata: “Panggillah dia.”.
Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:
- Marcus, Joel. (2009). Mark 8–16: A New Translation with Introduction and Commentary. Yale University Press.
- Watts, Rikki E. (2007). Isaiah’s New Exodus and Mark. Baker Academic.
- Strong, James. (1890). The Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.