← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG MENGASIHI

Pdt. Dirk Roy Kolibu 22 September 2026 1 kali dilihat
GEREJA YANG MENGASIHI

Baca Nats: Yehezkiel 14:3 “Hai anak manusia, orang-orang ini telah menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya dan telah menaruh batu sandungan kejahatan mereka di hadapan mukanya. Apakah Aku mau membiarkan diri-Ku dimintai petunjuk oleh mereka?”

Pernah mendengar sebutan idolatry? Istilah idolatry berasal dari bahasa Yunani εἰδωλολατρία (eidōlolatria), yang terbentuk dari εἴδωλον (eidōlon) yang berarti berhala, gambaran, atau objek yang dipuja dan λατρεία (latreia) yang berarti ibadah, pelayanan, atau pengabdian, sehingga secara sederhana idolatry berarti memberikan ibadah, pengabdian, kepercayaan, dan kesetiaan yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah kepada sesuatu yang bukan Allah, sedangkan kata Inggris idol berakar dari εἴδωλον (eidōlon) melalui bahasa Latin idolum. Ia tidak selalu datang dalam bentuk patung yang berdiri di hadapan manusia; terkadang ia datang dalam bentuk yang jauh lebih halus—sesuatu yang kita cintai, kita kejar, kita lindungi, kita takuti kehilangannya, dan kepadanya kita menggantungkan rasa aman, harga diri, masa depan, bahkan kebahagiaan. Karena itu, berhala paling berbahaya bukan selalu yang terlihat oleh mata, tetapi yang disembunyikan dengan rapi di dalam hati. Seseorang dapat membenci penyembahan berhala sambil tidak menyadari bahwa uang telah menjadi sumber keamanannya, jabatan telah menjadi identitasnya, popularitas telah menjadi makanannya, relasi telah menjadi pusat hidupnya, keberhasilan telah menjadi ukuran nilainya, dan pelayanan telah menjadi panggung bagi egonya. Yang lebih mengerikan lagi, semua itu dapat berlangsung di dalam gereja. Kita masih menyebut nama Tuhan, tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih kita takut kehilangan daripada Tuhan; kita masih berdoa kepada Tuhan, tetapi mungkin doa kita hanya menjadi cara mendapatkan apa yang kita idolakan; kita masih melayani Tuhan, tetapi mungkin yang sebenarnya sedang kita bangun adalah nama kita sendiri. Itulah idolatry yang paling sulit dideteksi: ketika berhala tidak menyuruh kita meninggalkan Tuhan, tetapi perlahan-lahan membuat Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama. Dan justru karena ia dapat mengenakan pakaian religius, ia menjadi jauh lebih berbahaya daripada berhala yang terang-terangan.

Itulah sebabnya firman Tuhan melalui Yehezkiel terasa seperti petir yang menyambar pusat kehidupan keagamaan Israel. Para tua-tua Israel datang kepada nabi untuk mencari petunjuk Tuhan, tetapi Tuhan tidak langsung menjawab pertanyaan mereka. Ia terlebih dahulu menyingkap apa yang mereka sembunyikan: “mereka telah menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya.” Kata גִּלּוּלִים (gillûlîm) menunjuk pada berhala-berhala, istilah yang digunakan para nabi secara tajam untuk menyebut objek penyembahan palsu; לֵב (lēb), “hati,” menunjuk bukan hanya kepada perasaan, tetapi pusat pikiran, kehendak, keputusan, dan orientasi hidup; sedangkan מוֹקֵשׁ (môqēsh), “jerat” atau “perangkap,” menggambarkan sesuatu yang justru menangkap dan menghancurkan orang yang memeliharanya. Dengan demikian, persoalan Israel jauh lebih dalam daripada sekadar memiliki berhala: berhala itu telah memperoleh tempat di pusat kehidupan mereka dan akhirnya menjadi jerat bagi mereka sendiri. Christopher J. H. Wright menempatkan idolatry sebagai persoalan mendasar tentang kepada siapa manusia memberikan kesetiaan, kepercayaan, dan pengabdian yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah. John Goldingay juga menunjukkan bahwa kesaksian para nabi berulang kali memperlihatkan bagaimana ketidaksetiaan Israel kepada Yahweh bukan sekadar pelanggaran ritual, tetapi penyimpangan pusat kehidupan umat dari Allah. Maka, berhala modern tidak harus berupa benda yang kita sujudi. Berhala bisa berupa apa pun yang kita tempatkan di posisi yang hanya pantas ditempati Allah. Uang dapat menjadi berhala ketika rasa aman kita sepenuhnya bergantung kepadanya. Jabatan menjadi berhala ketika tanpa posisi kita merasa tidak bernilai. Anak menjadi berhala ketika kebahagiaan kita sepenuhnya ditentukan oleh keberhasilan mereka. Pelayanan menjadi berhala ketika kita lebih takut kehilangan panggung daripada kehilangan persekutuan dengan Tuhan. Bahkan reputasi rohani dapat menjadi berhala ketika kita lebih sibuk mempertahankan citra kudus daripada membiarkan Tuhan membongkar dosa yang sebenarnya ada di dalam diri.

Karena itu, firman ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang jauh lebih menakutkan daripada, “Apakah saya menyembah berhala?” Pertanyaannya adalah: “Apa yang telah mengambil tempat Tuhan di pusat hatiku?” Apa yang paling kita takut kehilangan? Apa yang paling menentukan harga diri kita? Apa yang membuat kita merasa hidup ini tidak lagi berarti ketika hal itu tidak kita miliki? Apa yang membuat kita marah kepada Tuhan ketika Dia tidak memberikan apa yang kita inginkan? Di sanalah berhala sering kali menyamar. Sebab kita tidak selalu menyembah sesuatu dengan berlutut di depannya; terkadang kita menyembahnya dengan mengorbankan waktu, kejujuran, keluarga, integritas, kesehatan jiwa, bahkan iman kita untuk mendapatkannya. Kita menyebutnya ambisi, padahal mungkin itu keserakahan. Kita menyebutnya perhatian, padahal mungkin itu kontrol. Kita menyebutnya perjuangan mempertahankan pelayanan, padahal mungkin itu kecintaan terhadap posisi. Kita menyebutnya membela kebenaran, padahal mungkin ego kita sedang terluka. Di sinilah gereja yang mengasihi harus berani melakukan sesuatu yang sangat tidak nyaman: mengasihi manusia dengan cukup jujur untuk membongkar berhala yang sedang menghancurkan hidupnya. Sebab kasih tidak membiarkan seseorang terus nyaman di hadapan Tuhan dengan hati yang terbagi. Kasih memanggil kita kembali kepada pusat yang benar. Kita boleh memiliki uang tanpa diperbudak uang; memiliki jabatan tanpa menyembah jabatan; mencintai keluarga tanpa menjadikan keluarga sebagai Tuhan; melayani tanpa menjadikan pelayanan sebagai identitas; mengejar keberhasilan tanpa menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk hidup. Pada akhirnya, pertobatan dari idolatry bukan sekadar membuang sesuatu yang salah, tetapi mengembalikan seluruh kehidupan kepada Dia yang memang sejak awal berhak menjadi pusatnya. Dan mungkin inilah pertanyaan paling sunyi yang perlu kita bawa pulang malam ini: Jika Tuhan mengambil semua yang selama ini membuat saya merasa berharga, apakah saya masih dapat berkata, “Tuhan, Engkau tetap cukup bagiku”? Jika jawabannya belum, mungkin Tuhan sedang menunjukkan kepada kita bahwa masih ada sesuatu yang harus diletakkan kembali di bawah kaki-Nya.

“Berhala tidak selalu membuat kita meninggalkan Tuhan; terkadang ia hanya membuat Tuhan kehilangan tempat pertama di dalam hati kita.”

Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:

Goldingay, John. (2006). Old Testament Theology: Israel’s Faithfulness. IVP Academic.

Wright, Christopher J. H. (2006). The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative. IVP Academic.

Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.