← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengasihi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 29 September 2026 0 kali dilihat
Gereja Yang Mengasihi

Nats Alkitab: Amsal 3:11–12 “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.”

 

Ada masa ketika masalah datang satu demi satu, tetapi kita hanya melihatnya sebagai kesialan, tekanan, atau keadaan yang tidak berpihak kepada kita. Padahal, ada saat-saat tertentu ketika persoalan hidup justru menjadi alarm yang Tuhan izinkan untuk membangunkan kita dari arah hidup yang sedang keliru. Kita sudah berkali-kali ditegur melalui firman Tuhan, nasihat orang yang mengasihi kita, kegagalan yang berulang, relasi yang rusak, kehilangan kepercayaan, atau akibat dari keputusan yang kita ambil sendiri, tetapi kita tetap memilih berjalan dengan cara yang sama. Yang lebih berbahaya bukan ketika kita belum pernah diperingatkan, melainkan ketika kita sudah sering diperingatkan tetapi hati kita semakin terbiasa mengabaikannya. Pada titik tertentu, masalah tidak lagi sekadar sesuatu yang ingin kita hindari; masalah dapat menjadi cermin yang memperlihatkan bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang belum mau kita bereskan di hadapan Tuhan.

Amsal 3:11–12 menggunakan kata מוּסָר (mûsār), yaitu didikan, disiplin, atau koreksi yang bertujuan membentuk seseorang; kemudian kata תּוֹכֵחָה (tôkēḥâ), yaitu teguran atau koreksi yang menunjukkan kesalahan agar seseorang dapat kembali ke jalan yang benar. Namun menariknya, penulis Amsal menghubungkan kedua hal tersebut dengan kata אָהַב (ʾāhab), “mengasihi”: Tuhan mendidik karena Ia mengasihi. Jadi, teguran Tuhan bukan tanda bahwa Ia meninggalkan kita; justru teguran dapat menjadi tanda bahwa Tuhan masih menghendaki kita kembali kepada jalan-Nya. Bruce K. Waltke menjelaskan bahwa disiplin dalam hikmat Perjanjian Lama mempunyai tujuan pembentukan, bukan sekadar penghukuman, sedangkan Tremper Longman III menekankan bahwa didikan Tuhan berkaitan dengan pembentukan manusia agar hidup dalam hikmat. Karena itu, ketika firman Tuhan sudah berkali-kali menunjukkan sesuatu yang harus kita ubah, tetapi kita terus mengabaikannya, konsekuensi yang muncul bukan berarti Tuhan kehilangan kasih-Nya; sering kali kita sedang menuai akibat dari ketidaktaatan yang terus kita pertahankan.

Karena itu, gereja yang mengasihi tidak boleh hanya berkata kepada seseorang, “Tuhan mengasihimu,” tetapi juga berani berkata, “Karena Tuhan mengasihimu, jangan terus berjalan ke arah yang sedang menghancurkan hidupmu.” Ada orang yang sudah tahu bahwa kebiasaannya salah, tetapi terus melakukannya. Ada yang sudah berkali-kali diperingatkan tentang cara memperlakukan keluarganya, tetapi tetap keras hati. Ada yang tahu bahwa keputusannya bertentangan dengan firman Tuhan, tetapi terus mencari pembenaran. Ada pula yang baru ingin berubah setelah konsekuensinya menjadi sangat berat. Kasih Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk kenyamanan; terkadang kasih-Nya hadir sebagai teguran yang membuat kita tidak nyaman agar kita berhenti sebelum kehancuran menjadi lebih besar. Karena itu, ketika masalah hidup kembali mengetuk pintu kita, jangan hanya bertanya, “Tuhan, kapan masalah ini selesai?” Tanyakan juga, “Tuhan, apa yang sedang Engkau tunjukkan kepada saya yang selama ini tidak mau saya dengarkan?” Sebab orang yang mengasihi Tuhan bukanlah orang yang tidak pernah ditegur, tetapi orang yang ketika ditegur bersedia berhenti, merendahkan diri, bertobat, dan mengubah arah hidupnya.

“Teguran Tuhan adalah kasih yang memanggil kita berhenti sebelum konsekuensi membuat kita kehilangan lebih banyak.”

Tuhan Yesus Memberkati

 

Referensi:

  • Longman III, Tremper. (2006). Proverbs. Baker Commentary on the Old Testament Wisdom and Psalms. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
  • Waltke, Bruce K. (2004). The Book of Proverbs: Chapters 1–15. New International Commentary on the Old Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
  • Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson.