← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja yang Mengasihi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 22 October 2026 1 kali dilihat
Gereja yang Mengasihi

Baca: Yohanes 13:34-35 "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional seharusnya tidak menghasilkan tiga arah kehidupan yang berbeda; ketiganya harus bertemu di dalam Kristus dan menemukan buahnya dalam kasih. Kecerdasan intelektual membuat seseorang mampu berpikir jernih, memahami firman, menguji informasi, dan membedakan kebenaran dari kekeliruan. Kecerdasan spiritual menempatkan seluruh keberadaan di hadapan Allah, sehingga keputusan tidak semata-mata lahir dari pertanyaan "apa yang saya inginkan?", melainkan "apa yang Tuhan kehendaki?" Kecerdasan emosional membentuk kemampuan mengenali gejolak batin, mengendalikan respons, membaca keadaan orang lain, dan bertindak tanpa diperbudak oleh amarah, luka, iri hati, atau ketakutan. Ketika ketiganya tidak bertumbuh secara seimbang,kehidupan iman dapat mengalami paradoks: kepala penuh pengetahuan tetapi hati miskin belas kasih; aktivitas pelayanan meningkat tetapi kedalaman jiwa menurun; kemampuan berkomunikasi semakin baik tetapi kemampuan mengampuni justru semakin buruk. Ada orang yang mampu menjelaskan kasih dengan sangat indah, tetapi tidak mampu mengasihi orang yang mengoreksinya. Ada yang berbicara tentang kerendahan hati, tetapi merasa terancam ketika orang lain mendapatkan penghargaan. Ada pula yang tampak sangat rohani di hadapan jemaat, tetapi kehidupan pribadinya masih dikendalikan oleh kepentingan diri. Karena itu, Yesus tidak memberikan reputasi, jabatan, pengetahuan, atau keberhasilan pelayanan sebagai tanda utama seorang murid. Ia memberikan kasih. "Dengan demikian semua orang akan tahu"—bukan karena murid-murid itu paling hebat, melainkan karena kehidupan mereka memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh pencitraan: karakter Kristus yang sedang terbentuk di dalam diri mereka.

Nats ini menggunakan tiga kata penting yaitu, φρόνησις (phronēsis) (Strong's G5428) menunjuk pada pengertian,kebijaksanaan, dan kemampuan mempertimbangkan sesuatu dengan tepat sebelum bertindak. Ini bukan sekadar kepandaian mengumpulkan informasi, melainkan kemampuan membawa pengetahuan menuju penilaian yang benar dan tindakan yang bijaksana. πνευματικός (pneumatikos) (Strong's G4152) berarti "rohani", berkaitan dengan kehidupan yang berada dalam lingkup karya dan realitas Roh; karena itu kecerdasan spiritual tidak dapat direduksi menjadi pengalaman emosional keagamaan, tetapi menyangkut orientasi hidup yang sungguh diarahkan kepada Allah. ἐγκράτεια(enkrateia) (Strong's G1466) berarti penguasaan diri: kemampuan menahan dorongan yang salah dan mengarahkan diri kepada tindakan yang benar. Ketiga istilah ini memberi kedalaman pada pengertian pertumbuhan iman. Allah tidak meminta manusia berhenti berpikir, berhenti merasa, atau kehilangan kehendaknya; Allah membentuk manusia sehingga pikiran, kehidupan rohani, dan kehendaknya berada di bawah kebenaran-Nya. Karena itu kasih Kristen tidak identik dengan menyenangkan semua orang. Kasih mampu berkata tidak ketika ya justru akan merusak. Kasih mampu menegur tanpa merendahkan. Kasih mampu memberikan batas tanpa memelihara kebencian. Kasih mampu mengampuni tanpa menghapus tanggung jawab moral. Kasih mampu mempertahankan kebenaran tanpa mengubah lawan bicara menjadi musuh. Inilah sebabnya Paulus menghubungkan kedewasaan dengan perintah untuk "berpegang kepada kebenaran di dalam kasih" (Ef. 4:15). Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi palu; kasih tanpa kebenaran dapat menjadi kabut. Di dalam Kristus, kebenaran memberikan tulang punggung kepada kasih, sementara kasih memberikan wajah manusiawi kepada kebenaran. Dengan demikian, kecerdasan intelektual menentukan bagaimana kita memahami, kecerdasan spiritual menentukan kepada siapa hidup kita diarahkan, dan kecerdasan emosional menentukan bagaimana semua itu diwujudkan ketika kita berhadapan dengan manusia nyata.

J. P. Moreland, Dallas Willard, dan Christopher J. H. Wright memberikan penekanan yang saling memperkaya mengenai pembentukan murid: Moreland menyoroti pentingnya kehidupan pikiran dalam iman Kristen; Willard menempatkan transformasi karakter sebagai inti pemuridan; sedangkan Wright menegaskan panggilan umat Allah untuk mencerminkan karakter-Nya melalui kehidupan dan kesaksian di tengah dunia. Dari perspektif pastoral, pengajaran ini membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih tajam: apa yang terjadi pada iman ketika kehidupan tidak berjalan sesuai keinginan kita?Di situlah kecerdasan tersebut diuji. Ketika seseorang dikoreksi atas pekerjaannya, kecerdasan intelektual menolongnya membedakan kritik yang benar dari serangan pribadi; kecerdasan spiritual membuatnya bersedia merendahkan diri di hadapan Tuhan; dan kecerdasan emosional memampukannya menerima koreksi tanpa membalas. Ketika rekan kerja memperoleh kesempatan yang kita harapkan, iman diuji apakah kita mampu bersukacita tanpa iri. Ketika pelayanan yang kita bangun dengan susah payah tidak dihargai, iman diuji apakah kita tetap melayani karena Tuhan atau karena pengakuan manusia. Ketika keluarga mengecewakan, iman diuji apakah kita akan menggunakan kata-kata sebagai senjata atau menjadikannya ruang untuk menghadirkan kasih. Kasih yang matang tidak selalu terdengar lembut; kadang-kadang ia hadir dalam keberanian mengatakan kebenaran. Tidak selalu terasa nyaman; kadang-kadang ia menuntut pengampunan.Tidak selalu memperoleh balasan; kadang-kadang ia tetap memberi sekalipun tidak dihargai. Di sinilah gereja dipanggil bukan sekadar mengajar jemaat menjadi orang yang mengetahui Alkitab, tetapi menjadi manusia yang berpikir menurut kebenaran, hidup di hadapan Allah, dan memperlakukan sesama dengan karakter Kristus. Sebab ukuran pertumbuhan bukan berapa banyak ayat yang mampu kita kutip, berapa lama kita telah melayani, atau seberapa luas pengaruh yang kita miliki. Ukuran yang lebih jujur muncul ketika kita berada dalam tekanan: apakah kita tetap benar ketika tidak dipuji, tetap lembut ketika disakiti, tetap rendah hati ketika berhasil, dan tetap mengasihi ketika tidak menerima apa yang kita harapkan? Di sana doktrin menjadi karakter, dan karakter menjadi kesaksian. Gereja yang mengasihi bukan gereja yang sekadar berbicara tentang kasih. Gereja yang mengasihi adalah gereja yang telah membiarkan Kristus menguasai cara berpikirnya, menata kehidupan rohaninya, dan mendewasakan respons emosionalnya.

Tuhan Yesus Memberkati

Sumber Alkitab

  • Alkitab. (1974). Alkitab: Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia.

Referensi

  • Duguid, I. M., & Nielson, J. (2018). Esther & Ruth.
  • Moreland, J. P. (2012). Love your God with all your mind: The role of reason in the life of the soul (2nd ed.).NavPress.
  • Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson.
  • Willard, D. (2002). Renovation of the heart: Putting on the character of Christ. NavPress.
  • Wright, C. J. H. (2010). The mission of God's people: A biblical theology of the church's mission. Zondervan.