← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengasihi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 01 November 2026 3 kali dilihat
Gereja Yang Mengasihi

Baca: Matius 22:1-14 "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Matius 22:14)

Ada sebuah ironi yang sering tersembunyi di balik kehidupan iman: seseorang dapat menerima undangan Allah tanpa pernah membiarkan dirinya dibentuk oleh Sang Pengundang. Ia masuk ke dalam ruang perjamuan, tetapi membawa cara hidup lama ke dalamnya. Ia mengenakan identitas sebagai orang percaya, tetapi keputusan-keputusannya masih dikendalikan oleh pusat kehidupan yang sama—diri sendiri. Di sinilah perumpamaan Yesus menjadi lebih tajam daripada sekadar kisah tentang siapa yang datang dan siapa yang tidak datang. Raja bukan hanya memperhatikan siapa yang berada di dalam perjamuan, tetapi juga bagaimana orang itu hadir di hadapan-Nya. Pakaian pesta menjadi tanda bahwa undangan kerajaan menuntut respons yang pantas terhadap Sang Raja. Dengan demikian, persoalan terbesar bukan lagi apakah seseorang pernah mendengar panggilan Allah, melainkan apakah panggilan itu telah menghasilkan kehidupan yang berbeda. Seseorang dapat bertahun-tahun berada di lingkungan gereja tanpa pernah membiarkan Injil menyentuh cara ia menggunakan kuasa, memperlakukan orang yang lebih lemah, mengelola kepercayaan, menghadapi kekecewaan, atau merespons orang yang bersalah kepadanya. Ia telah berpindah tempat, tetapi belum tentu mengalami perubahan arah. Matius 22:14 kemudian berdiri sebagai sebuah cermin: "Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." Bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu kita tentang siapa yang dipilih Allah, melainkan untuk mengguncang kesadaran kita tentang apa yang sedang terjadi pada diri kita setelah mendengar panggilan-Nya.

Kedalaman perumpamaan ini terlihat melalui tiga kata penting. Pertama, καλέω (kaleō) (Strong's G2564), berarti memanggil atau mengundang. Dalam cerita Yesus, panggilan berasal dari raja dan diarahkan kepada manusia yang tidak menciptakan pesta itu, tidak menentukan waktunya, dan tidak menyediakan hidangannya. Mereka hanya menerima undangan. Ini menggambarkan bahwa keselamatan berawal dari inisiatif Allah, bukan dari kemampuan manusia menemukan Allah. Kedua, ἐκλεκτός (eklektos) (Strong's G1588), berarti dipilih atau terpilih. Kata ini membawa pembaca kepada wilayah kedaulatan Allah yang tidak dapat disederhanakan menjadi usaha atau prestasi manusia. Namun Yesus tidak mengajak pendengar-Nya melakukan spekulasi tentang daftar orang pilihan. Perkataan itu justru muncul setelah gambaran tentang undangan yang diterima dan respons yang diberikan. Ketiga, ἔνδυμα γάμου (endyma gamou), "pakaian pesta/pernikahan" (Mat. 22:11). Detail kecil ini menjadi sangat menentukan. Orang tersebut memang telah berada di dalam perjamuan, tetapi kehadirannya tidak sesuai dengan kehormatan acara yang dihadirinya. Pakaian itu dengan demikian memperlihatkan bahwa menerima undangan tidak dapat dipisahkan dari respons yang pantas kepada Sang Raja. Dalam kehidupan iman, hal ini berarti bahwa seseorang tidak dapat menjadikan identitas Kristen sebagai pengganti kehidupan yang diubahkan. Ia dapat memiliki kartu anggota gereja, terlibat dalam pelayanan, mengetahui bahasa iman, bahkan dikenal sebagai orang percaya, tetapi semua itu tidak boleh menggantikan pertobatan yang nyata. Panggilan Allah menghasilkan respons, dan respons yang sungguh kepada Allah menghasilkan kehidupan yang semakin selaras dengan kehendak-Nya.

Pemahaman tersebut diperkuat oleh Craig S. Keener, yang melihat perumpamaan ini dalam konteks penolakan terhadap undangan kerajaan dan terbukanya undangan bagi mereka yang sebelumnya berada di luar lingkaran kehormatan; namun kisah tentang tamu tanpa pakaian pesta menunjukkan bahwa penerimaan undangan tetap menuntut respons yang sesuai kepada Sang Raja. David L. Turner juga menekankan bahwa perumpamaan ini tidak berhenti pada kemurahan undangan, tetapi memperlihatkan seriusnya tuntutan Kerajaan terhadap mereka yang menerima undangan tersebut. Sementara itu, D. A. Carson menolong kita melihat bahwa perkataan "banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih" tidak boleh dipisahkan dari keseluruhan panggilan untuk merespons kerajaan Allah dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, kasih Allah tidak boleh dipersempit menjadi penerimaan yang membuat manusia nyaman. Kasih mengundang, tetapi kasih juga membentuk; kasih menerima, tetapi kasih juga mengoreksi; kasih mengampuni, tetapi kasih juga memanggil kepada pertobatan. Karena itu, gereja yang mengasihi tidak membiarkan seseorang tetap berada dalam kebiasaan yang menghancurkan dirinya hanya demi mempertahankan perasaan nyaman. Gereja berani mengatakan kebenaran kepada orang yang dikasihinya, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk memulihkan. Ia merangkul orang yang jatuh tanpa mengatakan bahwa kejatuhan itu baik; mengampuni tanpa menganggap dosa tidak serius; menerima tanpa kehilangan keberanian untuk menuntun kepada perubahan. Kasih yang sejati tidak bertanya hanya apakah seseorang merasa diterima, tetapi apakah setelah mengalami kasih itu ia semakin dekat kepada Kristus dan semakin menyerupai-Nya.

Jangan berhenti pada kenyataan bahwa Anda telah dipanggil. Biarkan panggilan itu mengubah arah hidup Anda. Sebab kasih Kristus bukan hanya membuka pintu bagi kita, tetapi membentuk kita setelah kita masuk. Gereja yang mengasihi adalah gereja yang membawa manusia datang kepada Kristus dan menolong mereka bertumbuh semakin serupa dengan Kristus.

Tuhan Yesus Memberkati