← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengasihi

Pdt. Dirk Roy Kolibu 03 November 2026 0 kali dilihat
Gereja Yang Mengasihi

GEREJA YANG MENGASIHI

Baca: Lukas 10:33 "Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan." - Lukas 10:33

Masalah terbesar gereja kadang bukan kurangnya pengetahuan tentang kasih, melainkan terlalu banyak alasan untuk tidak mengasihi. Seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang tampaknya sangat rohani: "Siapakah sesamaku manusia?" Tetapi Yesus tidak memberinya definisi; Ia memberinya sebuah cermin. Di hadapannya terbaring seorang manusia yang telah kehilangan segala sesuatu—harta, keamanan, martabat, bahkan kemampuan menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang imam melihat. Seorang Lewi melihat. Mereka tidak blind; mereka hanya tidak membiarkan apa yang mereka lihat mengganggu perjalanan mereka. Lalu muncul seorang Samaria—orang yang secara historis berada di luar lingkaran penerimaan orang Yahudi—dan justru dialah yang berhenti. Di sinilah Yesus membalik seluruh logika pertanyaan itu: sesama bukan pertama-tama orang yang memenuhi syarat untuk kita kasihi; sesama adalah manusia yang kepadanya kita bersedia hadir dengan belas kasih.

Yang mengubah arah cerita adalah orang Samaria itu. Lukas memakai ἐσπλαγχνίσθη (esplanchnisthē) dari σπλαγχνίζομαι (splagchnizomai) (Strong's G4697): tergerak oleh belas kasih dari kedalaman batin. Joel B. Green menegaskan bahwa belas kasih dalam narasi ini tidak berhenti sebagai respons emosional, tetapi segera diwujudkan dalam tindakan yang memulihkan kehidupan korban. Dalam horizon teologi Lukas, Mikeal C. Parsons menunjukkan bahwa splagchnizomai juga digunakan untuk menggambarkan belas kasih Yesus terhadap manusia yang menderita (Luk. 7:13) dan belas kasih sang bapa terhadap anaknya yang kembali (Luk. 15:20). Karena itu, tindakan orang Samaria menjadi lebih dari sekadar teladan moral: ia memperlihatkan seperti apa belas kasih yang melihat penderitaan, menembus batas permusuhan, lalu bersedia membayar harga untuk memulihkan sesama. Ia membalut luka, menuangkan minyak dan anggur, menaikkan korban ke atas kendaraannya, membawanya ke penginapan, mengeluarkan biaya, bahkan menjamin perawatan selanjutnya. Kasih, dengan demikian, bukan sekadar "saya peduli terhadap Anda," melainkan "saya bersedia menghentikan perjalanan saya agar kehidupan Anda dapat dipulihkan." Di sinilah gereja yang mengasihi menemukan ukuran kasihnya: bukan pada seberapa indah ia berbicara tentang belas kasih, tetapi pada seberapa jauh ia bersedia mendekat kepada manusia yang terluka ketika tidak ada keuntungan yang dapat diperolehnya.

Mungkin hari ini "jalan Yerikho" itu bukan lagi jalan berbatu. Ia mungkin berupa bangku gereja di sebelah kita, ruang kerja, rumah sendiri, ruang kelas, grup WhatsApp, atau seseorang yang sudah lama tidak datang karena merasa tidak lagi dianggap. Ada orang yang tidak membutuhkan kita untuk menjelaskan Tuhan kepadanya; ia sedang menunggu seseorang menunjukkan bahwa kasih Tuhan masih memiliki wajah. Jangan selalu mencari pelayanan yang spektakuler. Bisa jadi panggilan kasih hari ini sangat sederhana: berhenti, mendengar, mengunjungi, menolong, mengampuni, atau sekadar tidak melewati seseorang yang sedang hancur. Dan jika Anda sendiri sedang berada di pinggir jalan kehidupan, terluka dan merasa tidak ada yang melihat, ingatlah: Kristus tidak melewati orang yang tidak berdaya. Ia datang mendekat kepada yang terluka. Maka gereja harus menjadi komunitas yang memiliki wajah seperti itu—bukan hanya tempat orang berbicara tentang kasih, tetapi tempat orang yang terluka kembali percaya bahwa kasih masih nyata.

Tuhan Yesus Memberkati