Baca: 2 Korintus 5:18–20
“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”
Sering kali kita membayangkan orang yang diutus adalah orang yang pergi jauh: menjadi misionaris, membuka pelayanan baru, atau berkhotbah di tempat yang belum mengenal Kristus. Padahal, Paulus menunjukkan bahwa pengutusan juga berlangsung di tempat yang paling dekat dengan kehidupan kita. Ia berkata bahwa Allah telah memberikan kepada kita “pelayanan pendamaian” dan bahkan menjadikan kita “utusan-utusan Kristus” (2Kor. 5:18–20).
Artinya, seseorang tidak harus meninggalkan kotanya untuk menjadi orang yang diutus. Ia dapat diutus ke rumah tempat ia tinggal, kantor tempat ia bekerja, kampus tempat ia belajar, sekolah tempat ia mengajar, lingkungan tempat ia bertetangga, bahkan ruang digital tempat ia berkomunikasi setiap hari. Di sanalah iman diuji dan di sanalah Kristus perlu terlihat. Sebab, kalau gereja hanya berbicara tentang Kristus di dalam gedung gereja, tetapi tidak membawa damai, kejujuran, pengampunan, dan kasih ke dalam kehidupan sehari-hari, maka pengutusan belum sungguh-sungguh terjadi.
Paulus menggunakan kata πρεσβεύω (presbeuō), yang berarti menjadi utusan atau mewakili seseorang, καταλλάσσω (katallassō), yang berarti mendamaikan atau memulihkan hubungan, dan παρακαλέω (parakaleō), yang berarti mengajak, mendorong, atau memohon dengan sungguh-sungguh. Ketiga kata ini memperlihatkan bahwa seorang utusan Kristus bukan sekadar pembawa pesan, tetapi mewakili Kristus melalui cara ia memperlakukan orang lain dan menghadirkan pendamaian di tengah relasi yang rusak.
Murray J. Harris menjelaskan bahwa “utusan Kristus” menunjukkan seseorang yang bertindak sebagai wakil resmi bagi Kristus, sehingga perkataan dan kehidupannya seharusnya mencerminkan kehendak Kristus. Sejalan dengan itu, Paul Barnett melihat pelayanan pendamaian sebagai konsekuensi langsung dari karya Allah dalam Kristus: mereka yang telah menerima pendamaian kemudian dipercayakan untuk menyampaikan dan menghadirkannya kepada orang lain.
Karena itu, pengutusan tidak berhenti pada apa yang kita katakan tentang Injil; pengutusan terlihat dari bagaimana kita membawa karakter Injil ke dalam hubungan yang nyata. Maka, mungkin tempat pengutusan kita sebenarnya sudah ada di depan mata:
- Ketika rekan kerja sedang bermusuhan, kita dipanggil menjadi pembawa damai.
- Ketika percakapan di grup WhatsApp berubah menjadi penghinaan, kita dipanggil menjaga perkataan.
- Ketika ada tetangga yang sedang mengalami kesulitan, kita dipanggil hadir.
- Ketika keluarga sedang retak, kita dipanggil mengambil langkah pertama untuk berdamai.
- Ketika seorang teman gagal, kita tidak ikut menghakimi, tetapi menolongnya bangkit.
Kita tidak selalu membutuhkan mimbar untuk menjadi utusan Kristus. Kadang-kadang meja kerja, ruang kelas, ruang makan keluarga, dan lingkungan rumah justru menjadi tempat pengutusan yang paling nyata. Gereja yang mengutus bukan hanya gereja yang mengirim orang pergi jauh; gereja yang mengutus adalah gereja yang membuat setiap jemaat sadar bahwa di mana pun ia berada, di sanalah Kristus mengutusnya.
Tuhan Yesus Memberkati.
Referensi
Barnett, Paul. (1997). The Second Epistle to the Corinthians. New International Commentary on the New Testament. Eerdmans.
Harris, Murray J. (2005). The Second Epistle to the Corinthians: A Commentary on the Greek Text. Eerdmans.
Strong, James. Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible — πρεσβεύω (G4243), καταλλάσσω (G2644), παρακαλέω (G3870).