← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG MENGUTUS

Pdt. Dirk Roy Kolibu 23 September 2026 0 kali dilihat
GEREJA YANG MENGUTUS

Baca Nats: Kisah Para Rasul 1:6–8 “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.".”

Para murid datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Mereka ingin mengetahui kapan. Mereka ingin mengetahui apakah sekarang adalah saatnya. Mereka ingin melihat masa depan menjadi jelas sebelum mereka melangkah. Bukankah kita pun sering demikian? Kita berdoa, “Tuhan, kapan keadaan ini berubah? Kapan keluargaku dipulihkan? Kapan pelayanan ini berhasil? Kapan gereja mengalami kebangunan? Kapan Indonesia menjadi lebih baik?” Kita ingin mengetahui hari esok karena kita merasa lebih tenang apabila masa depan dapat kita kendalikan. Namun Yesus tidak memberikan tanggal, jadwal, atau kalender ilahi kepada para murid. Ia justru mengalihkan perhatian mereka dari “kapan” kepada “untuk apa mereka hidup sekarang.” Mereka ingin mengetahui masa depan Israel, tetapi Yesus berbicara tentang misi gereja. Mereka ingin mengetahui kapan kerajaan dipulihkan, tetapi Yesus mengatakan bahwa mereka akan menjadi saksi. Di situlah terdapat teguran yang sangat lembut tetapi tajam: kadang-kadang kita begitu sibuk menunggu Tuhan melakukan sesuatu pada masa depan, sampai lupa bahwa Tuhan sedang mengutus kita melakukan sesuatu pada masa kini.

Di sinilah tiga istilah penting dalam teks ini membuka kedalaman perkataan Yesus. Pertama, χρόνος (chronos), yang menunjuk pada rentang atau perjalanan waktu; kedua, kairos (καιρός), yang menunjuk pada kesempatan atau momentum yang memiliki makna tertentu dalam karya Allah; dan ketiga, αἰών (aiōn), yang menunjuk pada suatu zaman atau tatanan zaman. Yesus tidak sedang mengatakan bahwa waktu tidak penting. Sebaliknya, Ia menempatkan waktu manusia di bawah kedaulatan Bapa dan mengarahkan perhatian murid kepada tugas yang harus mereka jalankan. Darrell L. Bock menjelaskan bahwa jawaban Yesus mengoreksi keinginan para murid untuk mengetahui jadwal pemulihan kerajaan dan mengarahkan mereka kepada panggilan menjadi saksi. Sementara Eckhard J. Schnabel melihat Kisah 1:8 sebagai pernyataan programatik bagi gerakan kesaksian gereja yang akan bergerak dari Yerusalem menuju Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Dengan demikian, persoalannya bukan bahwa murid tidak boleh memikirkan masa depan, tetapi bahwa masa depan tidak boleh membuat mereka kehilangan kesetiaan pada panggilan hari ini. Mereka tidak diberi kalender; mereka diberi Roh Kudus. Mereka tidak diberi tanggal; mereka diberi kuasa. Mereka tidak diberi peta seluruh masa depan; mereka diberi arah: “kamu akan menjadi saksi-Ku.”

Karena itu, mungkin ada saat ketika kita perlu berhenti bertanya, “Tuhan, kapan?”, lalu mulai bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki aku lakukan sekarang?” Ketika pekerjaan belum berubah, tetaplah menjadi orang yang jujur. Ketika keluarga belum seperti yang kita harapkan, tetaplah menjadi orang yang mengasihi. Ketika pelayanan belum menghasilkan apa yang kita impikan, tetaplah setia. Ketika seseorang di sekitar kita sedang kehilangan harapan, mungkin Tuhan tidak sedang meminta kita menjelaskan seluruh masa depannya; mungkin Ia sedang mengutus kita menjadi tanda bahwa kasih Kristus masih nyata. Bahkan di tengah perubahan zaman—perubahan teknologi, budaya, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial—gereja tidak dipanggil untuk terus-menerus meratapi zaman, tetapi membaca zaman dengan hikmat dan menghadirkan kesaksian Kristus di dalamnya. Kita tidak mengetahui seluruh hari esok, tetapi kita mengetahui siapa yang memegang hari esok. Kita tidak mengetahui seluruh jalan, tetapi kita tahu siapa yang mengutus kita berjalan. Maka jangan habiskan hidup hanya untuk menunggu keadaan menjadi ideal. Pergilah. Kasihilah. Layani. Ampuni. Katakan kebenaran. Tolonglah yang lemah. Jadilah saksi Kristus di tempat Tuhan menempatkan kita. Sebab mungkin saja “masa ini” yang terus kita tanyakan kepada Tuhan sebenarnya adalah kesempatan yang sedang Tuhan berikan kepada kita untuk menjadi saksi-Nya.

“Gereja yang mengutus tidak menunggu zaman menjadi ideal; gereja membaca zamannya, menangkap kesempatan, lalu bersaksi di dalamnya.”

Tuhan Yesus Memberkati

Referensi:

  • Bock, Darrell L. (2007). Acts. Baker Exegetical Commentary on the New Testament. Baker Academic.
  • Schnabel, Eckhard J. (2012). Acts. Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament. Zondervan.
  • Strong, James. (1890). Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Hendrickson. χρόνος (G5550), καιρός (G2540), αἰών (G165).