Baca: Ezra 7:10 "Sebab Ezra telah bertekad untuk menyelidiki Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajarkan ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."
Ada sebuah ironi yang menyedihkan di zaman ini: semakin banyak orang ingin menjadi penyampai Firman, tetapi semakin sedikit yang bersedia menjadi pelajar Firman. Banyak orang terpikat oleh mimbar, tetapi tidak tertarik kepada perpustakaan. Mereka ingin dikenal sebagai pendeta, pengkhotbah, atau pelayan Tuhan, tetapi tidak rela hidup dalam disiplin belajar, pergumulan eksegesis, dan ketekunan memahami sejarah keselamatan. Akibatnya, mimbar yang seharusnya menjadi tempat suara Allah diperdengarkan perlahan berubah menjadi panggung retorika yang memanjakan telinga. Cerita-cerita lucu menggantikan kedalaman teks, motivasi psikologis menggantikan pemberitaan Injil, dan popularitas menjadi lebih penting daripada kebenaran. Jemaat dibuat bersemangat, tetapi tidak diperlengkapi; mereka dibuat kagum, tetapi tidak bertumbuh. Padahal sepanjang sejarah Alkitab, Allah tidak pernah memanggil orang untuk mengajarkan Firman sebelum terlebih dahulu tunduk kepada Firman. Ezra tidak langsung mengajar. Ia menyelidiki, melakukan, lalu mengajarkan. Kata Ibrani yang diterjemahkan "menyelidiki" adalah dāraš (דָּרַשׁ), yang berarti mencari dengan tekun, menggali dengan sungguh-sungguh, dan mempelajari dengan kerinduan yang mendalam sampai menemukan maksud Allah yang sesungguhnya. Urutannya tidak pernah dibalik. Sebab seseorang yang berbicara lebih banyak daripada yang dipelajarinya pada akhirnya hanya akan memperdengarkan dirinya sendiri, bukan suara Tuhan.
Ezra tidak membangun pelayanannya di atas spontanitas, melainkan di atas keseriusan akademik dan ketaatan rohani. Inilah yang semakin langka pada zaman ini. Banyak orang ingin berkhotbah, tetapi tidak mau belajar; ingin didengar, tetapi tidak mau dibentuk; ingin mengajar, tetapi tidak mau diajar. Akibatnya, mimbar dipenuhi pidato yang menghibur, tetapi miskin eksposisi; kaya ilustrasi, tetapi miskin teologi. Yang lebih parah penyebutan "pendeta ayat", modalnya hanya ayat saja yang dikhotbahkan tanpa eksegese yang benar. John Stott menegaskan bahwa seorang pengkhotbah harus bekerja keras menjembatani dunia Alkitab dengan dunia modern melalui penafsiran yang bertanggung jawab (Stott, 1982). Senada dengan itu, Haddon Robinson menyatakan bahwa otoritas khotbah tidak terletak pada kepandaian berbicara, tetapi pada kesetiaan terhadap makna teks Kitab Suci (Robinson, 2001). Sebab gereja tidak membutuhkan lebih banyak pelawak di mimbar, melainkan lebih banyak hamba Tuhan yang rela menghabiskan hidupnya untuk meneliti kebenaran sebelum memberitakan kebenaran.
Oleh sebab itu, seorang pendeta, pengkhotbah, atau pelayan Tuhan tidak dipanggil untuk menjadi selebritas rohani, motivator yang memukau, atau penghibur yang menyenangkan jemaat. Ia dipanggil menjadi pelayan Kristus yang rela menghabiskan hidupnya untuk belajar, meneliti, bergumul, dan dengan rendah hati menyampaikan seluruh maksud Allah kepada umat-Nya, sebagaimana Ezra. (Dirk Roy)
Tuhan Yesus Memberkati
Daftar Pustaka
- Haddon Robinson. (2001). Biblical Preaching. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
- John Calvin. (2008). Institutes of the Christian Religion. Peabody, MA: Hendrickson.
- John Stott. (1982). Between Two Worlds. Grand Rapids, MI: Eerdmans.