← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengutus

Pdt. Dirk Roy Kolibu 16 October 2026 1 kali dilihat
Gereja Yang Mengutus

Baca: Amos 5:21-24 "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."

Tuhan tidak terkesan dengan ibadah yang megah jika hati gereja tidak lagi peduli kepada manusia. Dalam Amos 5, Tuhan bahkan berkata bahwa Ia muak terhadap perayaan raya, nyanyian, dan korban umat Israel, karena semua itu tidak lagi disertai kehidupan yang benar. Mereka tetap beribadah, tetapi menindas yang lemah dan menutup mata terhadap ketidakadilan. Kata Ibrani yang menjadi penekanan dalam ayat ini adalah mishpat (מִשְׁפָּט) "keadilan." Namun maknanya bukan sekadar hukum atau penghakiman, melainkan tindakan nyata yang membela, memulihkan, dan memperhatikan manusia yang tertindas. Jadi ketika Tuhan berkata "biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air," Tuhan sedang menegur ibadah yang hanya berhenti di altar tetapi tidak pernah mengalir keluar menjadi kasih bagi sesama. Walter Brueggemann menjelaskan bahwa Amos menolak religiositas yang indah di permukaan tetapi gagal menghadirkan karakter Allah dalam kehidupan sosial umat-Nya (Brueggemann, 1978).

Gereja yang mengutus bukan gereja yang hanya penuh aktivitas rohani, tetapi gereja yang membiarkan kasih Tuhan mengalir keluar kepada dunia yang terluka. Sebab sangat mungkin gereja dipenuhi musik yang hebat, gedung yang indah, dan program yang besar, tetapi hati jemaatnya tidak lagi terusik melihat orang miskin, orang tersisih, atau jiwa-jiwa yang kehilangan arah hidup. Kita bisa begitu sibuk mempercantik suasana ibadah, tetapi lupa bahwa di luar sana ada manusia yang sedang kehilangan pengharapan. John Stott menegaskan bahwa penyembahan sejati tidak pernah terpisah dari kepedulian terhadap manusia, karena Allah yang disembah di altar adalah Allah yang juga mengasihi dunia yang menderita (Stott, 2006). Maka pertanyaan yang paling tajam hari ini bukan "seberapa meriah ibadah kita?", tetapi: apakah kasih, keadilan, dan hati Tuhan benar-benar mengalir keluar melalui gereja kepada dunia? Sebab Tuhan tidak mencari gereja yang hanya pandai bernyanyi di hadapan-Nya, tetapi gereja yang hidup membawa hati-Nya bagi manusia. (Dirk Roy)

Tuhan Yesus Memberkati

Daftar Pustaka

  • John Stott. (2006). Issues Facing Christians Today. Grand Rapids, MI: Zondervan.
  • Walter Brueggemann. (1978). The Prophetic Imagination. Philadelphia: Fortress Press.