Baca: 2 Timotius 4:3-4 "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya."
Salah satu bencana terbesar dalam sejarah gereja bukanlah ketika jemaat berhenti mendengar khotbah, melainkan ketika jemaat hanya mau mendengar apa yang ingin mereka dengar. Pada titik inilah pendidikan Kristen kehilangan sifat profetisnya dan berubah menjadi sarana hiburan rohani. Mimbar tidak lagi berfungsi membentuk karakter, melainkan sekadar memuaskan selera pendengar. Akibatnya, jemaat menjadi kaya informasi, tetapi miskin transformasi; mengenal banyak istilah teologis, tetapi tidak mengalami kedewasaan rohani. Rasul Paulus memakai istilah Yunani hygiainousēs didaskalias (ὑγιαινούσης διδασκαλίας) untuk "ajaran sehat" (2Tim. 4:3). Kata hygiainō berasal dari akar yang sama dengan kata hygiene, yang berarti sehat, utuh, tidak terinfeksi, dan menghasilkan kehidupan yang baik (Strong's G5198). Dengan demikian, pengajaran yang sehat bukan hanya benar secara doktrinal, tetapi juga memiliki daya pedagogis yang membentuk pikiran, afeksi, dan perilaku peserta didik. Dalam perspektif pendidikan Kristen, pengajaran yang sehat selalu bersifat transformasional, bukan sekadar informasional.
Sebaliknya, Alkitab memperingatkan bahaya bidat atau ajaran menyimpang. Kata Yunani yang digunakan Perjanjian Baru adalah hairesis (αἵρεσις) (Strong's G139), yang pada mulanya berarti "pilihan" atau "kelompok tertentu", tetapi kemudian berkembang menjadi suatu sistem pemikiran yang memisahkan diri dari kebenaran apostolik. Menariknya, secara pedagogis, bidat tidak selalu muncul melalui penolakan terang-terangan terhadap Alkitab, tetapi sering hadir melalui penekanan yang tidak seimbang, interpretasi yang terlepas dari konteks, atau pengajaran yang lebih berpusat pada pengalaman manusia daripada wahyu Allah. Oleh sebab itu, gereja yang mengutus tidak cukup hanya menghasilkan pengkhotbah yang pandai berbicara, tetapi harus melahirkan pendidik-pendidik iman yang mampu melakukan apa yang Paulus perintahkan kepada Timotius: "Ajarkanlah", dari kata Yunani didaskō (διδάσκω) (Strong's G132), yaitu proses membimbing seseorang menuju pemahaman yang benar dan kehidupan yang sesuai dengan kebenaran tersebut. Dengan demikian, tujuan tertinggi pendidikan Kristen bukan sekadar menghasilkan orang yang mengetahui Alkitab, tetapi membentuk manusia yang hidup menurut Alkitab. Karena itu, ukuran keberhasilan gereja tidak terletak pada banyaknya materi yang disampaikan, tetapi pada seberapa jauh pengajaran tersebut menghasilkan transformasi hidup. (Dirk Roy)
Daftar Pustaka
- Groome, T. H. (1999). Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
- Knight, G. R. (2006). Philosophy and Education: An Introduction in Christian Perspective. Berrien Springs, MI: Andrews University Press.
- Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson. (G5198, hygiainā, G139, hairesis, G1321, didasko).