Baca: 2 Korintus 4:1-2 "Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah."
Ada pertanyaan yang jarang berani diajukan oleh gereja kepada dirinya sendiri: Jika semua bantuan dihentikan, semua hadiah ditiadakan, semua fasilitas dihapuskan, dan semua kenyamanan dicabut, apakah orang masih tetap datang karena Kristus? Pertanyaan itu mungkin terdengar keras, tetapi justru di situlah kemurnian pemberitaan Injil diuji. Gereja memang dipanggil memberi makan yang lapar, menghibur yang terluka, dan menolong yang miskin. Namun ketika belas kasihan berubah menjadi strategi untuk mempertahankan jumlah jemaat, kasih kehilangan kemurniannya dan pelayanan kehilangan kekudusannya. Perlahan-lahan Injil tidak lagi menjadi daya tarik utama; ia hanya menjadi pelengkap dari berbagai insentif yang ditawarkan. Kata Yunani δολόω (dolóō), menurut Strong's Exhaustive Concordance (G1389), berarti mencampur sesuatu yang murni hingga kualitasnya berubah. Paulus juga memakai kata πανουργία (panourgia) (G3834) untuk menunjuk pada kelicikan yang cerdas tetapi tidak jujur, serta φανέρωσις (phanerōsis) (G5321) yang berarti menyatakan kebenaran secara terbuka tanpa manipulasi. Paulus sedang berkata bahwa Injil tidak boleh membutuhkan tipu daya agar diterima, sebab kuasa yang menyelamatkan bukan berada pada strategi manusia, melainkan pada Firman Allah sendiri.
Paul Barnett menegaskan bahwa Paulus menolak segala bentuk pelayanan yang mengaburkan kemurnian Injil demi memperoleh penerimaan manusia. Senada dengan itu, Michael Horton mengingatkan bahwa ketika gereja mulai menggantikan kuasa Firman dengan teknik pemasaran, ukuran keberhasilan pelayanan bergeser dari kesetiaan menjadi popularitas. Inilah bahaya yang paling halus. Gereja tidak lagi bertanya, "Apakah Kristus dimuliakan?" tetapi, "Bagaimana agar bangku penuh?" Tidak lagi bertanya, "Apakah orang bertobat?" tetapi, "Bagaimana agar mereka tidak pindah?" Akibatnya, salib perlahan digeser oleh kenyamanan, pemuridan diganti dengan hiburan, dan kesetiaan kepada Kristus ditukar dengan loyalitas kepada institusi. Jemaat dibiasakan datang karena apa yang mereka terima, bukan karena Pribadi yang mereka sembah. Ketika itu terjadi, gereja mungkin bertumbuh secara statistik, tetapi sedang menyusut secara rohani. Sebab Kristus tidak pernah mengutus gereja untuk membeli pengikut; Ia mengutus gereja untuk memberitakan Injil, memikul salib, dan menjadikan murid. Jika gereja harus membuat Kristus tampak menarik dengan menambahkan sesuatu di luar Injil, sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan daya tarik Kristus, melainkan kepercayaan kita kepada kuasa Injil itu sendiri.
Tuhan Yesus Memberkati
Referensi:
- Barnett, Paul. (1997). The Second Epistle to the Corinthians. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing.
- Horton, Michael. (2022). Recovering Our Sanity: How the Fear of God Conquers the Fears That Divide Us. Grand Rapids, MI: Zondervan Reflective.
- Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson. (G1389, dolóō, G3834, panourgia, G5321, phanerōsis).