← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengutus

Pdt. Dirk Roy Kolibu 23 October 2026 1 kali dilihat
Gereja Yang Mengutus

Baca: Yohanes 13:23 "Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada Yesus, di sebelah kanan-Nya."

Ada satu frasa yang, jika dibaca sekilas, dapat membuat kita salah memahami hati Yesus: "murid yang dikasihi-Nya." Seakan-akan di antara para murid terdapat satu orang yang memperoleh kasih dalam kadar yang lebih tinggi. Tetapi teks Yunani justru menuntun kita ke arah yang berbeda. Yohanes menulis ὃν ἠγάπα ὁ Ἰησοῦς (hon ēgapa ho Iēsous)—"yang Yesus kasihi." ἠγάπα (ēgapa), dari ἀγαπάω (agapaō, Strong's G25), berbentuk imperfect: menunjuk pada kasih yang berlangsung sebagai karakter relasi, bukan pemberian gelar "favorit". Yohanes tidak mengatakan "murid yang paling dikasihi", ia mengatakan "murid yang dikasihi." Bahkan sebelum ayat ini, Yohanes telah menutup pintu bagi pemahaman yang bersifat kompetitif: "Ia mengasihi murid-murid-Nya sampai kepada kesudahannya" (Yoh. 13:1). Karena itu, gereja perlu membaca teks ini dengan jernih: Yesus tidak sedang membagi kasih-Nya berdasarkan peringkat; Yohanes sedang memperlihatkan identitas seorang murid berdasarkan relasinya dengan kasih Kristus. Yang membedakan murid itu bukan jumlah kasih yang diterimanya, melainkan cara Yohanes memperkenalkannya.

Namun Yohanes kemudian membawa kita lebih jauh. Murid itu tidak dikenal melalui namanya, tetapi melalui kasih yang diterimanya; dan kasih itu kemudian menjadi dasar kesaksiannya. Ia dekat dengan Yesus dalam perjamuan (13:23), hadir di bawah salib (19:26), datang kepada kubur kosong (20:8), dan akhirnya disebut sebagai saksi yang kesaksiannya dapat dipercaya (21:24). Richard Bauckham menempatkan Beloved Disciple dalam fungsi kesaksian yang sangat penting bagi narasi Injil Yohanes: kedekatan dengan Yesus bukan ornamen spiritual, melainkan sumber otoritas kesaksian. Di sinilah logika Injil menjadi sangat indah: ia yang dekat dengan Kristus bukan dipanggil untuk menikmati kedekatan itu sebagai privilese pribadi, tetapi untuk membawa kesaksian tentang Kristus kepada orang lain. Maka "dikasihi" bukanlah mahkota untuk dikenakan di atas kepala; ia adalah anugerah yang mengubah seseorang menjadi saksi. Gereja yang mengutus karena itu tidak berangkat dari klaim keunggulan "kami paling benar, paling rohani, paling dikasihi"—melainkan dari kesadaran yang jauh lebih rendah hati: "Kami telah menerima kasih yang tidak kami ciptakan sendiri; karena itu kami pergi membagikannya."

Di sinilah teks ini menyentuh kehidupan jemaat dengan sangat dalam. Kita sering ingin menjadi "yang paling": paling dihormati, paling dipercaya, paling dekat dengan pusat pelayanan, paling dikenal, bahkan paling dianggap rohani. Tetapi Injil Yohanes tidak memberikan kepada murid itu identitas "yang paling"; ia memberinya identitas "yang dikasihi". Itu berarti nilai dirinya tidak berdiri di atas perbandingan dengan orang lain. Petrus tidak perlu menjadi murid yang dikasihi; Tomas tidak perlu merebut tempatnya; demikian pula kita tidak perlu memenangkan kompetisi rohani untuk meyakinkan diri bahwa Tuhan berkenan kepada kita. Kasih Kristus mendahului prestasi, pelayanan, jabatan, dan pengakuan. Kita tidak melayani agar dikasihi; kita melayani karena telah dikasihi. Kita tidak bersaksi agar dianggap istimewa; kita bersaksi karena kasih yang kita terima terlalu besar untuk disimpan sendiri. Dan ketika gereja memahami hal ini, pengutusan berhenti menjadi usaha memperbesar nama gereja dan kembali menjadi apa yang seharusnya: pergerakan kasih Kristus menuju manusia yang belum mengenal-Nya. Murid yang dikasihi bukanlah murid yang memenangkan perlombaan untuk mendapatkan kasih Yesus. Ia adalah murid yang membiarkan kasih Yesus menjadi identitasnya, lalu menjadikan hidupnya kesaksian tentang Dia.

Tuhan Yesus Memberkati

Sumber Alkitab

  • Alkitab: Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Referensi

  • Bauckham, Richard. (2007). The Testimony of the Beloved Disciple: Narrative, History, and Theology in the Gospel of John. Grand Rapids, MI: Baker Academic.
  • Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson.