Nats Alkitab: Kisah Para Rasul 27:20-26 “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku." (ay.25)
Ada masa ketika seseorang begitu sibuk berjuang menyelesaikan persoalannya sendiri sehingga merasa tidak lagi memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Ada jemaat yang sedang bergumul dengan kebutuhan ekonomi, menghadapi konflik rumah tangga, kehilangan pekerjaan, atau menyimpan kecemasan yang tidak diketahui siapa pun. Dalam keadaan seperti itu, mereka mungkin berpikir bahwa dirinya harus terlebih dahulu kuat sebelum dapat menguatkan orang lain. Namun, Kisah Para Rasul 27:20–26 memperlihatkan kenyataan yang berbeda. Paulus sedang berada di kapal yang diterjang badai dalam perjalanannya menuju Roma sebagai tahanan. Matahari dan bintang tidak tampak selama berhari-hari, badai terus mengamuk, dan harapan untuk selamat semakin menghilang. Paulus sendiri tidak memiliki kuasa untuk menghentikan badai atau mengendalikan kapal. Akan tetapi, ketika orang-orang di sekitarnya kehilangan harapan, ia justru menyampaikan perkataan yang menguatkan mereka. Paulus tidak menyangkal bahaya yang sedang mereka hadapi dan tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia menyampaikan pengharapan berdasarkan pesan yang diterimanya dari Allah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa pengutusan tidak selalu dimulai ketika semua persoalan kita telah selesai. Terkadang, Tuhan menempatkan kita di tengah pergumulan yang belum terselesaikan, tetapi tetap memberi kita kesempatan untuk menguatkan orang lain. Gereja yang mengutus bukan hanya gereja yang mengirim orang ke tempat yang jauh, melainkan gereja yang membentuk orang percaya untuk membawa pengharapan Kristus ke tengah kehidupan manusia, termasuk ketika mereka sendiri sedang melewati badai kehidupan.
Dalam teks Yunani, terdapat tiga istilah penting yang memperjelas pengajaran ini. Pertama, ἐλπίς (elpis), yang berarti “pengharapan”. Dalam Kisah Para Rasul 27:20, kata ini menggambarkan keadaan ketika harapan untuk selamat mulai hilang karena badai yang berkepanjangan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pergumulan yang berlangsung lama dapat membuat seseorang kehilangan pandangan terhadap kemungkinan masa depan yang lebih baik. Kedua, εὐθυμέω (euthymeō), yang berarti “bertabah hati” atau “menjadi bersemangat kembali”. Bentuk yang digunakan dalam ayat 22 adalah εὐθυμεῖτε (euthymeite), sebuah dorongan agar orang-orang di kapal tidak menyerah kepada ketakutan. Ketiga, πιστεύω (pisteuō), yang berarti “percaya”. Dalam ayat 25, Paulus menyatakan bahwa ia percaya kepada Allah bahwa apa yang telah disampaikan kepadanya akan terjadi. Kepercayaannya tidak lahir karena badai sudah berhenti, tetapi karena ia mempercayai Allah di tengah keadaan yang belum berubah. F. F. Bruce, dalam The Book of the Acts, membahas perjalanan Paulus ke Roma sebagai bagian dari kesaksian rasuli yang tetap berlangsung di tengah berbagai kesulitan. Craig S. Keener, dalam Acts: An Exegetical Commentary, menguraikan latar perjalanan laut kuno dan dinamika narasi badai yang memperlihatkan peran Paulus sebagai pembawa pesan dan pengharapan bagi orang-orang di kapal. Kisah ini tidak mengajarkan bahwa iman selalu membuat masalah segera selesai atau bahwa setiap orang yang percaya pasti terhindar dari penderitaan. Sebaliknya, kisah ini menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Allah dapat menjadi dasar untuk tetap teguh dan menguatkan sesama ketika keadaan belum memberikan kepastian. Dengan demikian, gereja yang mengutus perlu membentuk orang-orang yang tidak hanya mencari penguatan bagi dirinya sendiri, tetapi juga belajar menjadi pembawa pengharapan yang berakar pada firman Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, gereja dipanggil untuk hadir di tengah pergumulan nyata yang dialami sesama. Ketika anggota keluarga menghadapi masalah, kita dapat belajar mendengarkan tanpa menghakimi; ketika rekan kerja tertekan, kita dapat memberikan dukungan; dan ketika jemaat mengalami kesulitan ekonomi, kita dapat menunjukkan kepedulian melalui pertolongan nyata, bukan sekadar kata-kata. Kita memang tidak selalu mampu menyelesaikan masalah orang lain, tetapi kita dapat menemani mereka agar tidak merasa berjalan sendirian. Jika pergumulan yang dihadapi terlalu berat, kita juga dapat membantu mereka mencari pertolongan yang tepat. Gereja yang mengutus tidak harus menunggu dirinya sempurna atau semua masalah selesai untuk menjadi berkat. Di tengah keterbatasan, Tuhan tetap dapat memakai kehadiran, kepedulian, dan iman kita untuk menguatkan orang yang hampir kehilangan pengharapan. Gereja yang mengutus tidak menunggu semua badai reda untuk menghadirkan pengharapan, tetapi mengutus orang-orang yang tetap percaya kepada Allah dan bersedia menguatkan sesama di tengah badai kehidupan.
Tuhan Yesus Memberkati