← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

GEREJA YANG MENGUTUS

Pdt. Dirk Roy Kolibu 27 September 2026 0 kali dilihat
GEREJA YANG MENGUTUS

Nats Alkitab: Kisah Para Rasul 16:6–10 “Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”

 

Sering kali kita membayangkan gereja yang mengutus sebagai gereja yang mempunyai peta yang jelas: menentukan tujuan, menyusun strategi, memilih orang, lalu bergerak menuju tempat yang telah direncanakan. Namun Kisah Para Rasul 16 memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih dalam: kadang-kadang Tuhan mengutus gereja bukan dengan terlebih dahulu membuka jalan, tetapi dengan menutup jalan yang selama ini dianggap benar. Paulus dan rekan-rekannya sudah berjalan membawa Injil, bahkan mereka memiliki arah pelayanan yang masuk akal, tetapi dua kali perjalanan mereka dihentikan. Di sinilah kita belajar bahwa tidak setiap jalan yang terbuka dalam perencanaan manusia otomatis merupakan jalan yang Tuhan kehendaki, dan tidak setiap jalan yang tertutup berarti pelayanan kita gagal. Justru, dalam perjalanan Paulus, penutupan jalan menjadi bagian dari cara Tuhan mengarahkan misi-Nya menuju Makedonia. Gereja yang sungguh-sungguh mengutus karena itu harus memiliki keberanian untuk pergi, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk berhenti, membaca keadaan, menguji arah, dan bersedia diarahkan kembali oleh Tuhan.

Teks ini menggunakan kata κωλύω (kōlyō), “mencegah atau menghalangi,” untuk menggambarkan bahwa Roh Kudus dapat menghentikan arah pelayanan yang sedang ditempuh; kemudian muncul ungkapan Πνεῦμα Ἰησοῦ (Pneuma Iēsou), “Roh Yesus,” yang menunjukkan bahwa perjalanan misi berada di bawah pemerintahan Kristus yang hidup; dan akhirnya kata συμβιβάζω (symbibazō), “menyimpulkan dengan menghubungkan berbagai hal,” memperlihatkan bahwa Paulus dan rekan-rekannya tidak sekadar mengikuti dorongan pribadi, tetapi bersama-sama membaca larangan sebelumnya, penglihatan di Troas, dan keadaan yang mereka hadapi sebelum mengambil keputusan. Darrell L. Bock melihat bagian ini sebagai penegasan kuat tentang pengarahan Roh terhadap gerakan misi Paulus, sementara Eckhard J. Schnabel menempatkan perjalanan tersebut dalam kerangka misi yang bergerak menuju wilayah-wilayah baru sesuai tujuan Allah. Karena itu, gereja yang mengutus tidak hanya membutuhkan keberanian untuk membuka pintu, tetapi juga kedewasaan untuk mengenali ketika Tuhan justru sedang menutup sebuah pintu. Bahkan, kematangan misi tidak selalu terlihat dari seberapa banyak pintu yang berhasil kita buka, tetapi dari seberapa rendah hati kita ketika Tuhan meminta kita meninggalkan pintu yang ingin kita buka sendiri.

Karena itu, ada pertanyaan yang lebih serius bagi gereja masa kini: bagaimana jika kegagalan sebuah rencana pelayanan sebenarnya sedang menjadi cara Tuhan mengarahkan kita kepada ladang yang belum kita lihat? Ada pelayanan yang terus dipertahankan karena sudah dirancang dengan baik, ada program yang terus dijalankan karena sudah menjadi tradisi, dan ada agenda yang dipaksakan karena kita merasa bahwa keberhasilannya akan membuktikan bahwa Tuhan sedang menyertai kita. Padahal, gereja yang mengutus tidak boleh begitu terikat pada rencananya sendiri sehingga tidak lagi peka terhadap pengarahan Tuhan. Ada kalanya Tuhan berkata, “Jangan ke sana,” sebelum Ia memperlihatkan, “Pergilah ke sana.” Maka, gereja yang mengutus adalah gereja yang bukan hanya siap berangkat ketika pintu terbuka, tetapi juga siap mengubah arah ketika Tuhan menutup jalan. Sebab misi bukan milik gereja, dan orang-orang yang kita utus bukan milik gereja; semuanya berada dalam misi Allah. Kita hanya mengambil bagian di dalamnya. Dan ketika Tuhan mengubah arah perjalanan kita, tugas kita bukan mempertahankan peta lama, tetapi mencari tahu ke mana Ia sedang membawa kita.

Tuhan Yesus Memberkati

 

Referensi:

  • Bock, Darrell L. (2007). Acts. Baker Exegetical Commentary on the New Testament. Baker Academic.
  • Schnabel, Eckhard J. (2012). Acts. Zondervan Exegetical Commentary on the New Testament. Zondervan.
  • Strong, James. Strong’s Exhaustive Concordance of the Bible. Untuk שָׁמַע (shāma‘), H8085; דֶּרֶךְ (derekh), H1870; לָמַד (lāmad), H3925.