← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja yang Mengutus

Pdt. Dirk Roy Kolibu 01 October 2026 1 kali dilihat
Gereja yang Mengutus

Baca: Yeremia 29:7

“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Ada satu kekeliruan yang diam-diam mengubah cara banyak orang percaya memandang hidup: kita sering menganggap tempat kita berada hanyalah hasil pilihan karier, kesempatan, atau keadaan. Kita berkata, “Saya bekerja di sini karena diterima,” “Saya tinggal di sini karena keluarga,” atau “Saya berada di lingkungan ini karena kebutuhan hidup.” Cara berpikir seperti ini membuat kita mudah beradaptasi dengan budaya sekitar, tetapi sering lupa bertanya mengapa Allah mengizinkan kita berada di sana. Akibatnya, kita perlahan lebih sibuk menyesuaikan diri agar diterima daripada menghadirkan terang Kristus agar dikenal. Demi menjaga kenyamanan, kita memilih diam ketika kebenaran harus disampaikan, mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan firman agar tidak dianggap berbeda, bahkan membiarkan nilai-nilai dunia membentuk cara berpikir kita. Yang berubah bukan hanya perilaku, tetapi identitas. Orang percaya tidak lagi hidup sebagai saksi Kristus di tengah dunia, melainkan menjadi pantulan dunia di tengah gereja.

Kepada umat yang hidup sebagai orang buangan di Babel, Allah justru memberikan perintah yang mengejutkan: “Usahakanlah kesejahteraan kota...” Kata Ibrani šālôm (shalom), menurut Strong’s Exhaustive Concordance (H7965), bukan hanya berarti damai, tetapi keutuhan, kesejahteraan, dan keadaan yang selaras dengan maksud Allah. Menariknya, Allah tidak menyuruh Israel melebur dengan Babel, tetapi juga tidak memerintahkan mereka mengasingkan diri dari Babel. Mereka dipanggil untuk hidup berbeda tanpa hidup terpisah. Mereka hadir di tengah budaya yang tidak mengenal Allah, tetapi tidak membiarkan budaya itu menentukan siapa mereka. Di sinilah tampak bahwa penempatan Allah selalu memiliki dimensi misi. Tempat kerja, kampus, rumah sakit, kantor pemerintahan, ruang kelas, pasar, laboratorium, maupun lingkungan tempat tinggal bukan sekadar lokasi mencari nafkah, melainkan ruang kesaksian di mana karakter Kristus harus terlihat. Gereja yang diutus memahami bahwa setiap penempatan adalah mandat ilahi: bukan untuk mencari pengaruh bagi diri sendiri, tetapi menghadirkan pengaruh Kerajaan Allah.

Christopher J. H. Wright menjelaskan bahwa pembuangan Israel bukan kegagalan rencana Allah, melainkan bagian dari misi-Nya agar umat-Nya menjadi saksi di tengah bangsa-bangsa. Lesslie Newbigin menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi “komunitas penafsir Injil,” yakni menghadirkan cara hidup yang membuat dunia dapat melihat realitas pemerintahan Kristus. Sementara Miroslav Volf mengingatkan bahwa orang percaya tidak dipanggil melarikan diri dari kebudayaan atau larut di dalamnya, tetapi hidup sebagai pribadi yang setia kepada Kristus sambil bekerja bagi kebaikan sesama. Karena itu, gereja yang mengutus tidak bertanya, “Bagaimana saya bisa menjadi sama seperti lingkungan ini agar diterima?”, tetapi “Bagaimana Kristus dapat dikenal melalui hidup saya di lingkungan ini?” Kesetiaan kepada Kristus bukan berarti menarik diri dari masyarakat, melainkan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dengan kerendahan hati, kejujuran, kasih, dan keberanian. Pengutusan bukan pertama-tama soal berpindah tempat, melainkan soal menghadirkan Raja di tempat kita sudah ditempatkan.

Anda adalah gereja Tuhan yang sedang diutus, bahkan mungkin tanpa Anda sadari. Tempat di mana Anda bekerja, belajar, melayani, atau tinggal bukanlah kebetulan yang tidak bermakna di mata Allah. Di sanalah Tuhan memanggil Anda untuk menjadi saksi melalui karakter, integritas, belas kasih, dan kesetiaan kepada firman-Nya. Jangan biarkan lingkungan mengubah identitas Anda; biarkan kehadiran Kristus melalui hidup Anda mengubah cara lingkungan memandang Allah. Sebab ketika orang percaya tetap setia di tengah tekanan untuk berkompromi, dunia mulai melihat bahwa Kerajaan Allah benar-benar hadir di tengah mereka.
Referensi 

Newbigin, L. (1989). Volf, M. (1996). The Gospel in a Pluralist Society . Eerdmans.

Volf, M. (1996). Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation . Abingdon Press.

Wright, C. J. H. (2006). The Mission of God: Unlocking the Bible's Grand Narrative S . IVP Academic. Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible Nashville, TN: Thomas Nelson.