← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja yang Mengutus

Pdt. Dirk Roy Kolibu 03 October 2026 0 kali dilihat
Gereja yang Mengutus

Baca: Kisah Para Rasul 1:8

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Kita hidup pada zaman Roh Kudus—tetapi persoalannya bukan apakah Roh Kudus masih bekerja, melainkan apakah kita telah memahami seluas apa Ia bekerja. Ada kecenderungan menjadikan pengalaman berbahasa roh sebagai ukuran utama kehidupan dalam Roh, seolah-olah semakin kuat manifestasi di dalam ruang ibadah, semakin tinggi pula kerohanian seseorang. Padahal Yesus memberikan orientasi yang jauh lebih luas: “Kamu akan menerima kuasa ... dan kamu akan menjadi saksi-Ku.” Kuasa Roh dalam Kisah Para Rasul tidak diberikan untuk membuat gereja semakin terpesona kepada pengalaman internalnya sendiri, melainkan untuk menggerakkan gereja keluar menuju dunia. Bahkan urutan tekannya sangat penting: menerima kuasa → menjadi saksi → bergerak dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Dengan demikian, Roh Kudus tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi ketika jemaat berkumpul, tetapi juga dengan apa yang terjadi ketika jemaat diutus. Gereja yang terus-menerus mencari pengalaman Roh tetapi tidak pernah bergerak kepada manusia yang membutuhkan Kristus telah kehilangan arah misionar dari kuasa yang diterimanya.

Gordon D. Fee menempatkan Roh Kudus sebagai pusat kehidupan dan pembentukan komunitas Kristen, bukan sekadar sumber pengalaman karismatik; sementara Craig S. Keener menunjukkan bahwa dalam Kisah Para Rasul, karya Roh secara konsisten mendorong umat keluar melampaui batas geografis, sosial, etnis, dan religius untuk menjadi saksi Kristus. Amos Yong juga memperluas horizon pneumatologi dengan melihat karya Roh dalam keragaman kehidupan dan panggilan manusia. Karena itu, γλῶσσα (glōssa)—“lidah/bahasa”—tidak boleh dipersempit menjadi satu-satunya bentuk kehadiran atau karya Roh Kudus. Bahasa roh adalah salah satu karunia dalam kerangka yang lebih luas dari karya Roh; sementara Roh yang sama memberikan karunia, hikmat, keberanian, kasih, pengetahuan, pelayanan, kepemimpinan, dan berbagai kemampuan untuk membangun tubuh Kristus dan melaksanakan misi-Nya. Bahkan Pentakosta sendiri memberikan gambaran yang sangat kuat: Roh tidak membuat para murid berbicara hanya untuk didengar oleh komunitas internal mereka; bahasa yang diberikan Roh justru membuat karya Allah dapat dipahami oleh bangsa-bangsa yang berada di luar komunitas mereka (Kis. 2:6–11). Maka “bahasa Roh” tidak semestinya berhenti pada apa yang keluar dari mulut di dalam gedung gereja; ia harus menemukan bahasa kehidupan ketika kita keluar: bahasa kasih kepada yang terluka, bahasa keadilan kepada yang tertindas, bahasa hikmat dalam pendidikan, bahasa integritas dalam pekerjaan, bahasa pengampunan dalam keluarga, bahasa rekonsiliasi di tengah konflik, bahasa kreativitas dalam ilmu dan teknologi, serta bahasa pelayanan di tengah masyarakat. Roh Kudus tidak menghapus keunikan karunia; Ia mengarahkan karunia itu kepada misi Allah.

Maka mungkin pertanyaan terpenting bagi jemaat bukan lagi, “Apakah saya sudah mengalami Roh Kudus?”, tetapi “Ke mana Roh Kudus sedang mengutus saya?” Sebab seseorang dapat begitu fasih berbicara tentang kuasa Roh di dalam gereja, tetapi tetap tidak memiliki belas kasih di rumah, integritas di tempat kerja, keberanian membela kebenaran, atau kepedulian terhadap mereka yang terluka. Kita perlu berhati-hati terhadap spiritualitas yang membuat kita terpesona oleh manifestasi Roh tetapi tidak berubah menjadi manusia yang dipimpin Roh. Buah Roh tetap harus terlihat dalam karakter, dan kuasa Roh harus menemukan arah dalam kesaksian. Guru yang mendidik dengan kasih, dokter yang menjaga martabat kehidupan, dosen yang mengembangkan ilmu dengan integritas, pengusaha yang menciptakan kesejahteraan tanpa mengeksploitasi, pekerja yang menolak korupsi, orang tua yang membangun keluarga dengan kesetiaan, dan jemaat yang menghadirkan rekonsiliasi di tengah masyarakat—semuanya dapat menjadi ruang kesaksian ketika hidup mereka sungguh ditundukkan kepada Kristus. Roh Kudus tidak diberikan supaya kita hanya mengalami Allah ketika berada di dalam gereja; Ia diberikan supaya melalui kita, dunia mengalami jejak karya Allah ketika kita berada di luar gereja. Karena itu, setelah ibadah selesai, jangan bertanya, “Apa yang tadi saya rasakan?” Tanyakanlah: “Siapa yang Tuhan ingin saya layani, pulihkan, teguhkan, dan bawa lebih dekat kepada Kristus?” Di sanalah pengalaman Roh berubah menjadi pengutusan.

Tuhan Yesus Memberkati

Sumber Alkitab:

Alkitab: Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Referensi:

Fee, Gordon D. (1996). Paul, the Spirit, and the People of God. Baker Academic.

  • Keener, Craig S. (2012). Acts: An Exegetical Commentary. Vol. 1. Baker Academic.
  • Yong, Amos. (2005). The Spirit Poured Out on All Flesh: Pentecostalism and the Possibility of Global Theology. Baker Academic.
  • Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson.