← Kembali ke Daftar Artikel
Renungan GKRI

Gereja Yang Mengutus

Pdt. Dirk Roy Kolibu 02 October 2026 1 kali dilihat
Gereja Yang Mengutus

Baca: 2 Timotius 3:10–11, 14

“Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku... Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.”

Banyak gereja dan institusi pendidikan Kristen diam-diam sedang menghadapi pencobaan yang sama: mempertahankan jumlah orang dengan mengorbankan kualitas pembentukan manusia. Demi menjaga jemaat tetap datang atau peserta didik tetap bertahan, kebenaran disampaikan tanpa ketegasan, disiplin dianggap ancaman, dan pembentukan karakter diperlunak agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan. Tidak sedikit pengajar akhirnya enggan menegur, takut memberikan standar yang tinggi, ragu menegakkan disiplin, atau menghindari pembentukan karakter karena khawatir dianggap terlalu keras, tidak disukai, kehilangan peserta didik, atau menurunnya minat terhadap lembaga yang dipimpinnya. Perlahan tetapi pasti, integritas pendidikan dikorbankan demi kenyamanan, sementara pembentukan karakter digantikan oleh upaya mempertahankan citra dan popularitas. Padahal tugas seorang pendidik (pendeta, guru, dosen dll) bukan pertama-tama membuat jemaat atau peserta didik betah berada di ruang ibadah atau kelas, melainkan mempersiapkan mereka layak berdiri di hadapan Kristus. Inilah perbedaan mendasar antara mengajar dan mendidik. Mengajar dapat menyampaikan pengetahuan tanpa menyentuh kehidupan, tetapi mendidik selalu menuntut keberanian membentuk hati, sekalipun proses itu tidak selalu menyenangkan. Paulus tidak berkata kepada Timotius, “Engkau telah mengikuti materi ajaranku,” melainkan, “Engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku.” Kata Yunani παρακολουθέω (parakoloutheō), menurut Strong's Exhaustive Concordance (G3877), berarti mengikuti dengan saksama melalui pengamatan yang terus-menerus hingga menjadi bagian dari hidup sendiri. Kata ἀγωγή (agōgē) (G72) menunjuk kepada cara hidup atau pola kehidupan, sedangkan μένω (menō) (G3306) berarti tetap tinggal dan bertekun dalam kebenaran. Dengan demikian, pendidikan Kristen bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi transformasi kehidupan, di mana Firman Allah yang dikerjakan oleh Roh Kudus membentuk karakter melalui keteladanan seorang pendidik.

Robert W. Pazmiño menegaskan bahwa pendidikan Kristen pada hakikatnya adalah pelayanan ilahi yang bertujuan mentransformasi seluruh keberadaan manusia di bawah otoritas Kristus, sehingga keberhasilannya tidak pernah diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari semakin nyata karakter Kristus dalam kehidupan peserta didik. Senada dengan itu, Nicholas P. Wolterstorff mengingatkan bahwa pendidikan Kristen harus membentuk manusia yang hidup secara bertanggung jawab di hadapan Allah dan sesama; sebab pengetahuan yang tidak melahirkan tanggung jawab moral hanya akan menghasilkan orang yang cerdas tanpa hikmat. David S. Dockery menambahkan bahwa integrasi iman dan pembelajaran bukanlah sekadar menyisipkan ayat Alkitab ke dalam kurikulum, tetapi menghadirkan pandangan dunia Kristen yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Perry L. Glanzer kemudian menegaskan bahwa pendidikan tinggi Kristen kehilangan identitasnya apabila lebih berorientasi pada keberhasilan akademik daripada pembentukan kebajikan (virtue). Karena itu, gereja dan setiap institusi pendidikan Kristen harus berani mengevaluasi diri apabila keberanian membentuk karakter mulai dikalahkan oleh keinginan mempertahankan kenyamanan. Lembaga yang takut kehilangan orang sering kali mulai kehilangan keberanian membentuk orang. Dan ketika keberanian itu hilang, yang tersisa hanyalah organisasi yang ramai, tetapi miskin transformasi. Lebih baik seorang pendidik tidak selalu disukai karena setia membentuk karakter daripada dipuji karena menyenangkan semua orang tetapi membiarkan murid-muridnya bertumbuh tanpa integritas. Gereja yang mengutus bukan mengirim orang-orang yang sekadar cerdas, melainkan orang-orang yang telah dibentuk sehingga keberadaan mereka sendiri menjadi kesaksian hidup tentang Kristus.

Tuhan Yesus Memberkati

Referensi:

Dockery, D. S. (Ed.). (2018). Christian Higher Education: Faith, Teaching, and Learning in the Evangelical Tradition. Wheaton, IL: Crossway.

  • Glanzer, P. L., Alleman, N. F., & Ream, T. C. (2017). Restoring the Soul of the University: Unifying Christian Higher Education in a Fragmented Age. Downers Grove, IL: IVP Academic.

    Pazmiño, R. W. (2008). Foundational Issues in Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective (3rd ed.). Grand Rapids, MI: Baker Academic.

    Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson.

    Wolterstorff, N. (2002). Educating for Responsible Action. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company.