Baca: Yeremia 48:11
“Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah..”
Tidak semua yang membuat gereja berhenti bertumbuh adalah penderitaan. Kadang-kadang, justru kenyamananlah yang perlahan membunuh panggilan Allah. Moab tidak dihancurkan karena peperangan, kelaparan, atau penganiayaan. Sebaliknya, Moab terlalu lama menikmati ketenangan. Bangsa itu hidup tanpa guncangan, tanpa perpindahan, tanpa proses yang memaksa mereka keluar dari zona nyaman. Akibatnya, mereka menjadi seperti anggur yang dibiarkan terlalu lama di atas endapannya sendiri. Kata Ibrani šemārîm (שְׁמָרִים) menurut Strong's Exhaustive Concordance (H8105) menunjuk kepada ampas atau endapan anggur yang tertinggal di dasar bejana. Dalam dunia kuno, anggur yang baik harus terus dipindahkan dari satu tempayan ke tempayan yang lain agar kemurnian, aroma, dan kualitasnya terpelihara. Namun Moab "tidak pernah dituangkan". Mereka terlalu lama menetap. Mereka terlalu nyaman dengan keadaan mereka sendiri. Dan justru kenyamanan itulah yang menjadi awal kemerosotan mereka. Betapa mengerikannya jika hal yang sama terjadi pada gereja. Kita membangun komunitas yang hangat, menikmati persekutuan yang indah, mengadakan program yang baik, tetapi perlahan kehilangan keberanian untuk keluar menjangkau dunia yang sedang binasa. Tanpa disadari, gereja berubah menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang ingin merasa aman, bukan pusat pengutusan bagi orang-orang yang dipanggil Allah.
Ironisnya, banyak gereja modern lebih sibuk mempertahankan kenyamanan internal daripada memperluas Kerajaan Allah. Seluruh tenaga dicurahkan untuk mengurus kegiatan di dalam, sementara jiwa-jiwa di luar semakin jauh dari Kristus. Jemaat dididik menjadi penonton yang setia hadir setiap minggu, tetapi tidak dibentuk menjadi saksi yang berani hadir di tengah masyarakat. Kita mengukur keberhasilan dari seberapa banyak orang berkumpul di dalam gedung, padahal Yesus mengukur keberhasilan dari seberapa banyak murid yang diutus keluar ke dunia. Inilah sebabnya gereja yang mengutus tidak boleh menjadi "tempayan yang tidak pernah diguncang". Sebagaimana anggur yang tidak pernah dipindahkan akhirnya kehilangan kualitasnya, demikian pula gereja yang terlalu lama menikmati dirinya sendiri akan kehilangan aroma misinya. Lesslie Newbigin menegaskan bahwa gereja pada hakikatnya adalah komunitas yang diutus untuk menjadi tanda, alat, dan pendahulu Kerajaan Allah di tengah dunia (Newbigin, 1989). Senada dengan itu, Alan Hirsch menjelaskan bahwa identitas gereja bukan terletak pada kemampuannya mengumpulkan orang, melainkan pada kesediaannya mengutus orang (Hirsch, 2006). Mungkin ancaman terbesar gereja masa kini bukanlah aniaya dari luar, melainkan kenyamanan dari dalam. Sebab gereja tidak pernah dipanggil untuk menetap di dalam kandang, tetapi untuk membawa terang Kristus ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau. (Dirk Roy)
Daftar Pustaka
Hirsch, A. (2006). The Forgotten Ways. Grand Rapids, MI: Brazos Press.
Newbigin, L. (1989). The Gospel in a Pluralist Society. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
Strong, J. (1990). Strong's Exhaustive Concordance of the Bible. Nashville, TN: Thomas Nelson. (H8105, šemārîm).