Baca: Lukas 15:4
"Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jika ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?"
Ada sesuatu yang mulai hilang dalam banyak gereja hari ini: kerinduan mencari jiwa. Kita sangat sibuk menjaga kegiatan gereja tetap berjalan, tetapi tidak lagi gelisah melihat orang-orang yang perlahan menjauh dari Tuhan. Kita lebih cepat membahas dekorasi ibadah daripada memikirkan siapa yang minggu ini menangis sendirian. Kita hafal jadwal pelayanan, tetapi tidak tahu nama tetangga yang hidup dalam keputusasaan. Ironisnya, gereja bisa penuh aktivitas, tetapi kosong belas kasihan. Dalam Lukas 15, Yesus tidak berkata gembala itu menunggu dombanya pulang sendiri. Ia pergi mencarinya. Kata Yunani yang dipakai adalah zēteō(ζητέω), yang berarti mencari dengan sungguh-sungguh, dengan kerinduan sampai menemukan. Ini bukan pencarian pasif, tetapi hati yang tidak tenang selama masih ada yang hilang. Henri Nouwen pernah menulis bahwa masalah terbesar komunitas rohani bukan kurangnya aktivitas, tetapi hilangnya hati yang mau terluka demi orang lain. Tragedi terbesar gereja adalah ketika komunitas yang seharusnya menjadi rumah bagi orang terluka justru berubah menjadi tempat orang merasa semakin tidak layak untuk datang (Nouwen, 1992).
Gereja yang mengutus bukan gereja yang sibuk mempertahankan kenyamanan internalnya, tetapi gereja yang rela "terganggu" demi jiwa-jiwa. Sebab pengutusan selalu dimulai ketika hati berhenti hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ada orang-orang di sekitar kita yang perlahan tenggelam: anak muda yang kehilangan arah, keluarga yang retak diam-diam, orang tua yang kesepian, teman yang tertawa di luar tetapi hancur di dalam. Dan seringkali mereka tidak membutuhkan khotbah panjang; mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengar, hadir, dan tidak menghakimi. Lesslie Newbigin mengatakan bahwa Injil menjadi nyata ketika gereja hadir sebagai tanda kasih Allah di tengah dunia yang terluka, bukan hanya sebagai institusi yang sibuk dengan dirinya sendiri (Newbigin, 1989). Jadi mungkin pertanyaan paling jujur hari ini bukan "berapa lama saya sudah di gereja?", tetapi: siapa yang hidupnya menjadi lebih dekat kepada Tuhan karena kehadiran saya? Sebab gereja yang berhenti menjangkau jiwa perlahan akan sibuk memelihara dirinya sendiri—dan lupa mengapa Tuhan mengutusnya sejak awal. (Dirk Roy)
Tuhan Yesus Memberkati
Daftar Pustaka
Henri Nouwen. (1992). The Return of the Prodigal Son. New York: Doubleday.
- Lesslie Newbigin. (1989). The Gospel in a Pluralist Society. Grand Rapids, MI: Eerdmans.