← Kembali ke Daftar Artikel
Teologi

PERTOBATAN

YTH 28 May 2026 0 kali dilihat
PERTOBATAN

Ada orang yang berkata bahwa dia sudah mengalami pertobatan sejak dalam kandungan ibunya. Perkataannya ini menunjukkan bahwa tidak semua orang memahami pertobatan dengan tepat. Pertobatan tidak mungkin terjadi di dalam kandungan. Pertobatan merupakan sebuah keputusan yang kita ambil setelah kita mengenal kebenaran.

Memang, ada beberapa orang yang dipilih dan dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba-Nya sejak dari kandungan. Nabi Yeremia dan Rasul Paulus menceritakan bagaimana Tuhan telah memanggil mereka sejak dari kandungan ibu mereka (Yer. 1:5, Gal. 1:15). Tetapi bukan berarti bahwa mereka sudah bertobat sejak dari rahim ibu mereka. Paulus mengalami pertobatan setelah dia dewasa. Ketika dia menganiaya orang-orang Kristen, dalam perjalanan menuju Damsyik, Tuhan menjumpai dia dan mempertobatkan dia (Kis. 9:1-18).

Untuk memahami apa arti pertobatan, maka saya akan memulai dengan menjelaskan apa yang bukan dimaksud dengan pertobatan.

Pertama, pertobatan tidak identik dengan perasaan bersalah. Kita semua tahu bahwa ketika seseorang bertobat, pasti ada perasaan bersalah dalam diri orang itu. Namun, tidak semua orang yang menangisi dosanya, pada akhirnya bertobat. Sebagai contoh Yudas Iskariot. Setelah dia menjual Tuhan Yesus dengan 30 keping perak, dia menyesal dan menyadari kesalahan yang telah dilakukannya. Tetapi tidak ada pertobatan. Yudas Iskariot menyesal, tapi kemudian menggantung diri. Hidupnya diakhiri dengan keputusasaan, bukan dengan penyerahan diri kepada Allah yang benar. (Band. Penyesalan jemaat Korintus di 2Kor. 7:9-11)

Banyak orang yang merasa bersalah atau menyesal, bukan karena memandang dosa sebagai sesuatu yang membuat hati Tuhan berduka dan marah, melainkan lebih karena ketidaknyamanan diri akibat dosa yang dibuatnya. Bukannya dosa yang disesali, tapi kehilangan popularitas, kehilangan nama baik, kehilangan keluarga (akibat dosanya) itu yang disesalinya. Penyesalan yang seperti ini bukanlah “di dorong” oleh kepekaan pada natur dosa yang menjijikkan, tapi “di dorong” oleh ketidaknyamanan akibat dosa. Jadi pertobatan tidak identik dengan penyesalan. Ada penyesalan yang membawa pada pertobatan, ada penyesalan yang tidak membawa pada pertobatan.

Kedua, pertobatan tidak selalu melibatkan kisah yang spektakuler.Beberapa tokoh Alkitab mengalami pertobatan yang luar biasa. Rasul Paulus adalah contohnya. Juga bapa-bapa Gereja, seperti Agustinus dan Martin Luther. Mereka mengalami kisah pertobatan yang spektakuler. Tetapi jangan punya pikiran bahwa setiap orang yang bertobat harus menjalani kisah yang spektakuler semacam itu. Semua orang yang bertobat, baik spektakuler atau tidak kisahnya, pasti mengalami karya Allah.

Faktor latar belakang petobatlah yang membuat kisahnya terkesan spektakuler. Orang yang hidup dalam rupa-rupa dosa, ketika mengalami pertobatan, maka perubahannya terlihat begitu drastis, sehingga orang mengganggap itu adalah perubahan yang spektakuler. Faktor krisis yang dialami petobat juga menentukan kisahnya terkesan spektakuler atau tidak. Orang yang mengalami krisis yang begitu berat dalam hidupnya dan pada akhirnya berjumpa dengan Tuhan, maka kisahnya terkesan sangat spektakuler. Tetapi, bagi orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda, yang datang kepada Kristus bukan melalui sebuah krisis yang sedemikian rupa, kisah mereka mungkin nampak kurang spektakuler, tapi bukan berarti pertobatannya kurang berkualitas dibandingkan orang-orang tadi (seperti Paulus, Agustinus, dan Martin Luther).

Pertobatan bukanlah sekadar penyesalan biasa. Pertobatan tidak selalu melibatkan kisah hidup yang spektakuler. Tetapi pertobatan pasti membawa pada perubahan hidup yang radikal. Perubahan hidup yang nyata bagi orang yang bertobat. Nah, apa yang dimaksud dengan pertobatan? Kita akan membahas itu pada sesi berikutnya. Tuhan memberkati kita. Amin.