Stewards of God’s Grace
1 Petrus 4:10-11
Kalau kita membaca 1 Petrus 4:10–11, kita mungkin langsung berpikir bahwa Petrus sedang berbicara tentang karunia rohani dan pelayanan. Tetapi nasihat ini sebenarnya harus kita lihat dalam konteks yang lebih luas. Sejak pasal pertama, Petrus berbicara kepada orang-orang percaya yang sedang menghadapi berbagai macam pencobaan. Kemudian di pasal 4:7 ia berkata, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.” Artinya, mereka sedang hidup dalam sebuah masa yang penuh ketegangan: Kristus sudah datang, tetapi Ia belum datang kembali. Zaman akhir sudah dimulai melalui kedatangan Kristus, tetapi penggenapan akhirnya masih kita nantikan.
Lalu bagaimana orang percaya harus hidup di tengah keadaan seperti itu? Petrus tidak berkata, “Karena dunia semakin sulit, hiduplah masing-masing dan selamatkan diri sendiri.” Justru sebaliknya. Ia berkata, “Layanilah seorang akan yang lain.” Semakin berat keadaan yang mereka hadapi, semakin mereka membutuhkan satu sama lain. Itulah sebabnya ketika kita sampai pada pasal 4, Petrus mulai mengarahkan perhatian mereka kepada kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus yang saling melayani.
Di ayat 10-11, Petrus bahkan menggunakan kata yang menarik ketika berbicara tentang karunia Allah untuk saling melayani. Ia mengatakan bahwa setiap orang telah menerima karunia, dan karunia itu adalah “berbagai-bagai” karunia Allah. Kata Yunani yang digunakan adalah poikilos. Kata yang sama juga muncul di pasal 1:6 ketika Petrus berbicara tentang “berbagai-bagai pencobaan.”
Jadi ada semacam permainan kata yang sangat indah dalam surat ini. Di satu sisi, orang percaya menghadapi poikilos — berbagai macam ujian. Tetapi di sisi lain, Allah memberikan poikilos — berbagai macam karunia.
Dengan kata lain, Allah tidak memberikan satu jenis karunia untuk menghadapi satu jenis persoalan. Ada berbagai macam persoalan dalam kehidupan umat Tuhan, dan Allah juga memberikan berbagai macam karunia untuk saling melayani di tengah persoalan tersebut. Karena itu, keberagaman karunia bukan sebuah masalah yang harus diseragamkan. Justru keberagaman itu adalah bagian dari cara Allah memelihara umat-Nya. Semakin beragam pergumulan yang kita hadapi, semakin kita menyadari bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian.
Tetapi kemudian Petrus memberikan satu pengingat penting: kita adalah penatalayan kasih karunia Allah. Kata yang digunakan adalah oikonomos. Seorang oikonomos bukan pemilik, melainkan orang yang dipercaya untuk mengelola milik tuannya. Ini berbeda dengan doulos, seorang budak atau hamba yang menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Seorang oikonomos memiliki tanggung jawab untuk mengelola apa yang dipercayakan kepadanya.
Jadi karunia yang kita miliki bukan milik kita. Allah mempercayakannya kepada kita supaya kita kelola dan gunakan bagi orang lain. Karena itu pertanyaannya bukan hanya, “Karunia apa yang Tuhan berikan kepada saya?” tetapi juga, “Sudahkah saya menggunakan karunia itu untuk melayani orang lain?”
Di tengah berbagai macam tekanan, Allah tidak memanggil gereja untuk berjalan sendiri-sendiri. Ia memberikan berbagai macam karunia supaya umat-Nya dapat saling melayani, saling menguatkan, dan bersama-sama menantikan kedatangan Kristus.
Pertanyaan kita sekarang sederhana: seperti apa penatalayan yang baik? Petrus menjawab bahwa penatalayan yang baik diukur dari dua hal: dari prosesnya, dan dari hasilnya. Proses ada di ayat 10 sampai 11b. Hasil ada di ayat 11 bagian akhir.
PENILAIAN PROSES (1 Petrus 4:10-11b)
Bagaimana seorang oikonomos seharusnya menjalankan perannya sehari-hari? Di dalam ayat 10 sampai 11b, Petrus menyebutkan tiga kriteria utama di dalam proses pelayanan :
1. Setiap Orang Dipanggil untuk Melayani (Hekastos)
Ayat 10 dimulai dengan kata yang sangat penting: “setiap” (hekastos) “setiap orang”, “masing-masing”. Artinya tidak ada seorang pun anak Tuhan yang terlewatkan. Tidak ada anggota jemaat yang hanya menjadi penonton atau konsumen “spiritual”.
Di dalam Perjanjian Lama, pelayanan Bait Allah dimonopoli oleh suku Lewi dan para imam. Namun di dalam Perjanjian Baru, melalui darah Kristus, kita semua telah diangkat menjadi "imamat yang rajani" (1 Petrus 2:9). Hak untuk melayani adalah hadiah Injil, bukan penghargaan atas prestasi. Karena kita semua telah menerima kelimpahan kasih karunia yang sama di dalam Kristus, maka tidak ada orang percaya yang terlalu kecil atau tidak berarti untuk dipakai oleh Tuhan. Semua dipanggil untuk menjadi saluran kasih karunia. Pelayanan bukan lagi milik sekelompok pendeta atau pengurus gereja saja, melainkan panggilan bagi setiap orang percaya untuk saling melayani.
2. Melayani Sesuai Karunia yang Dipercayakan (Poikilos & Charisma)
Meskipun setiap orang dipanggil untuk melayani, Tuhan tidak memberikan tugas yang sama kepada semua orang. Petrus mencatat bahwa ada berbagai-bagai (poikilos) karunia yang diberikan Allah. Setiap orang menerima sebuah karunia (charisma).
Seorang oikonomos pada zaman kuno bisa diberi tanggung jawab yang berbeda-beda: ada yang dipercaya memimpin hamba lain (Lukas 12:42), ada yang mengelola keuangan (Lukas 16:1; Roma 16:23), atau mendampingi tumbuh kembang anak tuannya (Galatia 4:2). Apapun porsinya, sang pengurus melayani sesuai dengan kapasitas dan tugas yang diterima dari tuannya.
Keanekaragaman karunia ini mencerminkan kekayaan dan keindahan kasih karunia Kristus. Kita tidak perlu iri terhadap karunia orang lain, dan kita juga tidak boleh membanding-bandingkan pelayanan kita. Injil membebaskan kita dari rasa minder maupun rasa sombong. Karunia rohani bukanlah bukti kedewasaan atau ajang mencari gengsi, melainkan titipan kasih karunia agar tubuh Kristus saling melengkapi dan dikuatkan.
3. Berpusat dan Bersandar Sepenuhnya pada Allah
Seorang oikonomos tidak pernah bertindak atas kemauannya sendiri. Segala sesuatu yang ia lakukan harus berpusat pada sang tuan. Petrus memberikan dua contoh nyata bagaimana proses melayani ini harus berpusat pada Allah:
- Bagi yang berbicara (Ayat 11a): Ia harus berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah (logia theou). Para pengkhotbah, pengajar, atau konselor tidak dipanggil untuk membagikan opini pribadi, filsafat populer, atau hikmat duniawi. Mereka dipanggil untuk setia menyatakan maksud dan hati Tuhan. Sama seperti hamba yang dilarang menyampaikan pesan bertentangan dari tuannya, kita juga tidak boleh membelokkan firman-Nya.
- Bagi yang melayani (Ayat 11b): Ia harus melakukannya "dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah" (ex ischyos hēs chorēgei ho theos). Kata chorēgeō awalnya digunakan untuk tindakan seorang penyandang dana yang menanggung seluruh biaya pertunjukan teater. Artinya, Allah bukan hanya memberi tugas, tetapi Dialah yang menyediakan seluruh daya, tenaga, dan kemampuan yang kita perlukan. Ketika kita berusaha melayani dengan kekuatan diri sendiri, kita akan mudah lelah, kecewa, dan pahit. Namun Injil mengingatkan bahwa Roh Kudus—Roh Kristus yang bangkit—diberikan kepada kita untuk menjadi sumber kekuatan yang tak pernah habis. Kita melayani bukan dari kehebatan kita, melainkan dari kelimpahan apa yang telah Kristus sediakan bagi kita.
PENILAIAN HASIL (1 Petrus 4:11c)
Setelah memperhatikan prosesnya, hal kedua yang diukur dari seorang penatalayan adalah penilaian hasilnya.
Seorang oikonomos pada akhirnya harus berdiri di hadapan tuannya untuk memberikan pertanggungjawaban. Ia tidak bekerja demi nama baiknya sendiri, melainkan demi nama tuannya. Begitu pula dengan kehidupan orang percaya. Tujuan akhir dari seluruh penggunaan karunia rohani kita dirumuskan dengan sangat indah oleh Petrus: “supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus.”
Bagaimana perbuatan dan pelayanan kita yang serba terbatas ini dapat mendatangkan kemuliaan bagi Allah? Jawabannya terletak pada frasa: “karena Yesus Kristus” (atau secara harfiah: "melalui Yesus Kristus"). Firman yang kita sampaikan berporos pada Kristus. Kuasa yang kita andalkan, kita terima melalui Kristus. Seluruh pelayanan kita berdiri di atas Kristus.
Pelayanan kita—seberapa hebat pun tampaknya—tidak pernah memiliki nilai sempurna di hadapan Allah jika dipisahkan dari Kristus. Tanpa pengorbanan Yesus di kayu salib, persembahan dan pelayanan kita tercemar oleh ego dan dosa kita. Namun, melalui karya penebusan Kristus, pelayanan kita disucikan, disempurnakan, dan diperkenankan oleh Bapa. Kristuslah yang menjembatani kita, sehingga persembahan yang rapuh ini diterima di hadapan takhta Bapa sebagai korban yang harum. Oleh karena itu, seluruh pujian dan kemuliaan tidak boleh berhenti di diri kita, melainkan harus kembali kepada-Nya!
Jika seluruh pelayanan kita disucikan dan diterima Bapa hanya karena karya Kristus, bagaimanakah seharusnya kita merespons kasih karunia yang sedemikian besar ini di dalam kehidupan jemaat sehari-hari?
Menjadi pengurus kasih karunia Allah (Stewards of God’s Grace) adalah sebuah kehormatan yang luar biasa. Mari kita tidak lagi menjadi penonton pasif di dalam rumah Tuhan. Kenali dan maksimalkan karunia Anda: Buka hati dan tanyakan kepada Tuhan, "Karunia apa yang telah Engkau percayakan kepadaku?" Buka mata Anda di tengah jemaat dan komunitas: siapa yang bisa Anda hibur, siapa yang bisa Anda layani, siapa yang membutuhkan perkataan yang menguatkan, atau bantuan tangan Anda. Layani dengan rendah hati: Ingatlah bahwa kita hanyalah oikonomos. Jangan melayani untuk mencari penghormatan diri, tetapi layanilah dengan mengandalkan kekuatan dari Allah agar nama Tuhan yang dipermuliakan.
Namun di atas semuanya itu, lihatlah kepada Yesus Kristus, Pelayan yang sejati!. Sebelum Ia memanggil kita untuk melayani, Dialah yang terlebih dahulu melayani kita. Kristus tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45). Dialah Steward yang sempurna, yang melayani Bapa dan melayani kita sampai tuntas—bahkan melayani sampai mati di atas kayu salib demi menyucikan dosa-dosa kita.
Ketika kita memandang kepada salib Kristus dan melihat betapa besarnya kasih yang telah dicurahkan-Nya bagi kita, melayani sesama tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah respons syukur yang spontan.
Mari kita melayani seorang akan yang lain dengan setia, mengelola setiap karunia yang ada, dan mempersembahkan seluruh hidup kita agar Allah saja yang dimuliakan melalui Yesus Kristus, sampai selama-lamanya!